ANATOMI MARMUT
(Cavia Porcellus)
Andriani Diah Irianti
B1J012011
Asisten : Marlina
LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN 1
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2013
I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Mamalia adalah vertebrata yang tubuhnya tertutupi oleh rambut. Kelenjar
mamae pada hewan betina tumbuh baik untuk menyusui anaknya. Anggota gerak depan dapat bermodifikasi untuk
berlari, menggali lubang, berenang dan terbang. Pada kulinya terdapat kelenjar
keringat dan kelenjar minyak (Brotoatmojo, 1990). Mamalia dibedakan atas caput,
truncus dan cauda. Caput dihubungkan dengan truncus oleh leher, rongga thoraic
dan carvum pericardi. Skeleton humanium dapat dibagi dalam skeleton trunci,
cingulum membri inferioris dan skeleton membri liberi (Radiopoetro, 1990).
Marmut (Cavia porcellus) termasuk ordo Rodentia.
Rodentia merupakan anggota mamalia yang mengalami kesuksesan dari semua mamalia
yang ada dalam satu spesies, jumlahnya kira-kira 300 jenis. Marmut (Cavia
porcellus) mempunyai ciri-ciri adanya kelenjar susu, rambut dan melahirkan
anaknya. Tubuh mamalia pada umumnya dapat dibedakan secara jelas antara kepala,
leher, badan dan ekor. Mulut, lubang hidung, mata dan lubang telinga pada
Marmut terdapat pada bagian kepala. Telinga Marmut dilengkapi daun telinga
(pina auricula), pada mulut terdapat labium inferior dan labium superior
(Moments, 1967).
Marmut (Cavia porcellus) digunakan sebagai
preparat dalam praktikum kali ini sebagai salah satu spesies yang mewakili
mamalia, susunan tubuh marmut mudah dipelajari dan diamati.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum Struktur dan Perkembangan Hewan I kali ini adalah untuk
mengetahui Morfologi dan Anatomi Marmut (Cavia
porcellus).
II. MATERI DAN METODE
A.
Materi
Alat-alat
yang digunakan adalah bak preparat, pinset,gunting bedah.
Bahan yang
digunakan adalah Marmut (Cavia porcellus),
air kran, kloroform, tissue.
B. Metode
Materi yang
digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Marmut dibius dengan menggunakan kloroform
sampai mati lemas.
2. Sebelum pembedahan dilakukan, rambut pada
bagian ventral dibasahi dulu supaya pada waktu dibedah rambut-rambut tidak
beterbangan dan mengotori.
3. Kulit dipotong dengan gunting mulai dari
posterior di muka penis atau clitoris menuju anterior mengikuti garis medio
ventral badan diujung medula.
4. Kulit dibuka ke samping sampai kelihatan
otot-otot daerah abdomen dan thorax
5. Selaput-selaput yang tidak diperlukan
dipotong supaya struktur-struktur yang akan diamati tampak jelas dan pendarahan
sedapat mungkin dihindari agar tidak terganggu.
6. Pembedahan pada daerah abdomen, dimulai
dari daerah inguinal menuju anterior sampai xiphisternum mengikuti garis median
badan, kemudian disectio dilanjutkan ke lateral menyusuri diaphragma, sehingga
otot-otot pada bagian abdomen dapat dikuakkan dan organ-organ yang ada pada
rongga abdomen dapat dilihat dengan jelas.
7. Pembedahan pada daerah thorax, dilakukan
dengan memotong rusuk-rusuk di kiri sternum, pada bagian anterior dekat pangkal
leher (sampai rusuk pertama) dengan hati-hati jangan sampai merusak vena besar
yang menimbulkan pendarahan. Kemudian pemotongan dilanjutkan ke lateral pada bagian anterior sampai daerah
ketiak (aksiler), sedangkan sebelah posterior digunting lateral menyusuri
diaphragma.
8. Setelah pembedahan selesai, semua organ
diamati terlebih dahulu tanpa mengubah tempat masing-masing.
9. Setelah memperhatikan viscera insitu, saluran pencernaan makanan direntangkan dengan
hati-hati kemudian dipelajari dan disesuaikan dengan gambar yang ada di diktat
serta diberi keterangan.
B. Pembahasan
Storer dan Usinger (1957)
mengklasifikasikan Marmut (Cavia
porcellus) sebagai berikut :
Phylum :
Chordata
Sub phylum :
Vertebrata
Class :
Mamalia
Ordo :
Rodentia
Familia :
Cavidae
Genus :
Cavia
Spesies :
Cavia porcellus
Hasil pengamatan anatomi
Marmut, didapatkan hasil bahwa tubuh Marmut terdiri atas kepala, leher, badan
dan ekor. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hildebran (1995), bahwa tubuh Marmut
dibungkus oleh kulit yang berbulu dan terdiri atas caput, cervix, truncus dan
cauda yang tumbuh rudimenter. Caput terdiri atas rima oris yang dibatasi oleh labium
superior dan labium inferior. Organon visus memiliki pelpebra superior dan
pelpebra inferior. Pada bagian belakang organon visus terdapat pina auricula
(daun telinga) sebagai corong dari porus austicus externa yang selanjutnya ke
alat pendengaran.
Menurut Brotowidjoyo (1990) Marmut
(Cavia porcellus) termasuk mamalia
yaitu hewan yang memiliki kelenjar mammae untuk menyusui anaknya sebagai
makanan pertama setelah mereka dilahirkan. Ciri lain dari mamalia adalah
tubuhnya dilindungi oleh rambut, kulit mengandung bermacam-macam kelenjar, jari
kaki mempunyai cakar, kuku dan telapak. Jantung
beruang empat dengan sekat-sekat yang sempurna, lengkung aorta hanya satu yaitu
pada sebelah kiri, paru-paru relatif besar dan kenyal terdapat di rongga dada.
Sistem pencernaan pada Marmut antara lain terdiri atas oesophagus,
lambung dan usus. Oesophagus terletak di sebelah dorsal dari trachea, melewati
rongga dada kemudian menembus diafragma untuk masuk masuk ke lambung. Lambung
terletak di belakang diafragma sebelah kiri rongga abdomen. Usus terletak
sesudah lambung, dapat dibedakan menjadi usus halus dan usus kasar. Usus halus
terdiri dari tiga bagian yaitu duodenum, jejunum dan illeum yang batasnya tidak
dapat dibedakan. Lambung dan duodenum dihubungkan dengan suatu lubang yang
disebut pyrolus yang dindingnya terdiri dari otot sfingster yang dapat membuka
dan menutup, sedangkan usus kasar terdiri dari caecum, colon dan rectum yang
berakhir pada anus (Djuhanda, 1980).
Sistem ekskresi pada Marmut (Cavia
porcellus) dibangun oleh sepasang ginjal yang berwarna merah tua, berbentuk
seperti kacang, terletak di sebelah dorsal dari rongga abdomen dan saluran
pelepasan yang merupakan bagian medial ginjal yang berupa hilus tempat keluarnya urin. Kelanjutan dari ginjal adalah ureter,
yaitu saluran yang bermuara pada vesica urinaria yang merupakan tempat
penampungan urin sementara. Akhirnya urin dikeluarkan melalui urethra ke luar
tubuh (Jasin, 1989).
Sistem genitalia Marmut jantan dibangun oleh sepasang testis yang
bentuknya bulat telur berwarna putih, terletak dalam rongga perut. Epididymis
terdiri dari caput, corpus dan cauda epididymis. Ductus defferens berupa
saluran berjalan di sebelah dorsal dari kantung urin dan bermuara pada ductus
spermaticus yang terdapat pada batang penis (Storer dan Usinger, 1961).
Terdapat sepasang papilla mammae dan muara glandula mammae diantara kaki
belakangnya, namun pada hewan jantan, glandula mammae tidak mengalami sekresi.
Terdapat lekukan pirenium pada bagian belakang penis yang merupakan lekukan
yang dalam dan nampak selalu kotor. Lekukan ini merupakan tempat bermuaranya
kelenjar bau yang digunakan sebagai tanda pengenal spesies dan hedonik atau
pemikat lawan jenis (Brotowidjoyo, 1993).
Menurut Pratiwi (1996) sistem genitalia Marmut betina terdiri dari
ovarium. Ovarium pada marmut berjumlah sepasang, merupakan organ yang kompak
dan terletak di dalam rongga pelvis. Pada mamalia yang lain ductus muller
membentuk oviduct, uterus dan vagina. Bagian anterior oviduct (tuba falopii)
membentuk infundibulum yang terbuka kearah rongga selom. Ada 4 macam tipe
uterus:
-Dupleks; uterus
kanan dan kiri terpisan dan bermuara secara terpisah ke vagina.
-Bipartil;
uterus kanan dan kiri bersatu yang bermuara ke vagina dengan satu
lubang.
-Bikornuat;
bagian uterus kana dan kiri labih banyak yang bersatu bermuara ke-
vagina dengan satu lubang.
-Simpleks; semua
uterus bersatu sehingga hanya memiliki badan uterus
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan
sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.
Marmut terdiri dari kepala (caput), leher (cervix), badan (truncus) dan
ekor yang rudimenter.
2.
Sistem pencernaan Marmut terdiri dari
oesophagus, lambung dan usus. Usus pada Marmut terdiri dari dua yaitu usus
halus dan usus kasar. Usus halus terdiri dari duodenum, jejunum dan illeum.
Usus kasar terdiri dari caecum, colon dan rectum.
3.
Sistem ekskresi pada Marmut dibangun
oleh sepasang ginjal, ureter, vesica urinaria, urethra dan anus.
4.
Sistem genatalia Marmut jantan dibangun
oleh sepasang testis, epididymis, ductus defferens dan ductus spermaticus.
5.
Sistem genetalia Marmut betina dibangun
oleh ovarium yang berjumlah sepasang, oviduct, uterus dan vagina
6.
Marmut termasuk dalam kelas mamalia,
dimana hewan ini memiliki ciri yang khas yaitu memiliki kelenjar mammae, selain
itu juga tubuhnya ditutupi oleh rambut, kulitnya mengandung bermacam-macam
kelenjar, jari kakinya memiliki cakar, kuku dan telapak.
DAFTAR REFERENSI
Brotoatmojo, M. D. 1990. Zoologi Dasar. Zoologi
Dasar. Erlangga, Jakarta.
Brotowidjoyo, D. M. 1990. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta.
Brotowidjoyo, D. M. 1993. Zoology Dasar. Erlangga, Jakarta.
Djuhanda, T. 1980. Anatomi dari 4 Spesies Hewan Vertebrata. Armico,
Bandung.
Hildebrand, M. 1995. Analisis of Vertebrata
Structure. John Wiley and Son Inc., New York.
Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan
Invertebrata. Sinar Jaya, Surabaya.
Moments, B. G. 1967. General Zoology. Houghton Mifflin
company, Boston.
Radiopoetro. 1977. Zoologi.
Erlangga, Jakarta.
Pratiwi, D. A. 1996. Biologi 2. Erlangga, Jakarta.
Storer,
T. I. dan Usinger, R. L. 1957. General Zoology. Mc Graw-Hill Company Inc., New
York.
Storer
dan Usinger. 1961. Element of Zoology. Mc Graw-Hill Book Company, New York.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar