HEMATOLOGI
I

Oleh
:
ANDRIANI DIAH IRIANTI
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL
SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2013
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pengukuran hematologi
merupakan pengukuran yang meliputi pengukuran kadar hemoglobin, perhitungan
total eritrosit, perhitungan total leukosit dan pengukuran hematokrit. Hematokrit
adalah istilah yang menunjukan besarnya volume sel-sel eritrosit seluruhnya di
dalam 100 mm3 darah dan dinyatakan dalam persen (%). Nilai
Hematrokit adalah suatu istilah yang artinya prosentase berdasarkan volume dari
darah, yang terdiri dari sel darah merah (Hoffbrand dan Pettit, 1987).
Darah adalah matrik cairan dan merupakan
jaringan pengikat terspesialisasi yang dibentuk dari sel-sel bebas (Bryon and
Doroth, 1973). Darah terdiri dari komponen cair yang disebut plasma dan
berbagai unsur yang dibawa dalam plasma yaitu sel-sel darah. Sel-sel darah
terdiri dari eritrosit atau sel darah merah, yaitu sel yang mengangkut oksigen,
leukosit atau sel darah putih yaitu sel yang berperan dalam kekebalan dan
pertahanan tubuh dan trombosit yaitu sel yang berperan dalam homeostasis
(Frandson, 1992).
Eritrosit mempunyai peran sebagai media
transport. Sedangkan leukosit berfungsi sebagai alat pertahanan tubuh sehingga
memiliki sifat menembus jaringan tanpa merusak jaringan tersebut. Darah
sangat penting bagi organisme, jika kekurangan atau kelebihan sel darah
mengakibatkan tidak normalnya proses fisiologis suatu organisme sehingga
menimbulkan suatu penyakit (Pearce, 1989). Transport oksigen dalam darah
tergantung pada komponen besi dalam pigmen respirasi biasanya haemoglobin.
Haemoglobin merupakan bagian dari sel darah merah yang mengikat oksigen. Darah
terdiri atas sel-sel dan fragmen-fragmen sel yang terdapat secara bebas dalam
medium yang bersifat cair yang disebut plasma darah. Sel-sel dari fragmen sel
merupakan unsur darah yang disebut unsur jadi. Sel ini berukuran cukup besar
sehingga dapat diamati dengan mikroskop biasa. Plasma darah merupakan bagian
yang cair dari darah yang terdiri dari 99 % air dan 8-9 % protein (Kimball,
1988).
Hemoglobin adalah
senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen porfirin merah,
masing-masing mengandung atom Fe ditambah globulin yang merupakan protein
globuler yang terdiri atas empat asam amino. Kadar hemoglobin dan kadar glukosa
setiap species berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebutuhan metabolisme
species itu sendiri. Hemoglobin bergabung dengan oksigen paru-paru disebut
oksihemoglobin (Hoffbrand dan Pettit, 1987).
1.2
Tujuan
Tujuan dari praktikum kali
ini adalah memberikan ketrampilan pada mahasiswa tentang cara pengambilan darah
hewan, mengetahui perbedaan bentuk sel darah pada berbagai hewan, serta cara
melakukan perhitungan sel darah merah, sel
darah putih dan kadar hemoglobin hewan.
II. MATERI DAN CARA
KERJA
2.1 Materi
Materi yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ayam
(Galus galus), mencit (Mus musculus) dan ikan gurami (Osphronemus gouramy) larutan hayem, larutan
turk, haemometer,
haemositometer, larutan 0,1 N HCl,
pipet
kapiler, pipet
thoma, mikroskop, tabung sahli, spuit,
akuades, larutan EDTA, cawan petri, cover glass dan hand counter.
2.2 Cara Kerja
2.2.1 Perhitungan jumlah leukosit
(pengenceran 10 kali)
a. Darah dihisap menggunakan pipet thoma leukosit hingga
angka 1
b. Larutan Turk dihisap hingga angka 11
c. Pipa karet diambil dari pipet, kemudin pipet dipegang
pada kedua ujungnya dengan ibu jari dan telunjuk lalu dikocok selama dua menit
d. Tetesan larutan darah petama dan kedua dibuang, tetesan
ketiga baru digunakan untuk perhitungan.
e. Bilik hitung disiapkan, cairan dalam pipet diteteskan ke
bilik hitung sehingga cairan dapat masuk dengan sendiriya
f. Bilik hitung dilihat di bawah mikroskop, mula-mula dengan
perbesaran lemah, kemudian dengan perbesaran kuat
g. Jumlah leukosit yang terdapat di bujur sangkar sedang
dihitung. Jadi jumlah bujur sangkar yang dihitung menjadi 4 x 16 = 64 bujur
sangkar dengan sisi masing-masing 1/4 mm, dengan rumus:
Jumlah
leukosit per mm3 = 
= 25 (L1+L2+L3+L4)
2.2.2
Perhitungan Jumlah Leukosit ( Pengenceran 10 kali)
a. Darah diisap menggunakan pipet thoma eritrosit hingga
angka 1
b. Larutan Hayem diisap hingga angka 101
c. Pipa karet diambil dari pipet, kemudin pipet dipegang
pada kedua ujungnya dengan ibu jari dan telunjuk lalu dikocok selama dua menit
d. Tetesan larutan darah petama dan kedua dibuang, tetesan
ketigga baru digunakan untuk perhitungan.
e. Bilik hitung disiapkan, cairan dalam pipet diteteskan ke
bilik hitung sehingga cairan dapat masuk dengan sendiriya
f. Bilik hitung dilihat di bawah mikroskop, mula-mula dengan
perbesaran lemah, kemudian dengan perbesaran kuat
g. Jumlah eritrosit dalam bujur sagkar kecil dihitung,
dengan rumus:
Jumlah
eritrosit per mm3 = 
= 5000(E1+E2+E3+E4+E5)
2.2.3 Pengukuran Kadar Hb
a.
Darah diisap menggunakan
pipet sahli sampai angka 20µL
b. Tabung pengencer diisi dengan HCl 0,1 N hingga angka 2
c. Darah dimasukkan ke tabung pengencer, diaduk dan
dibiarkan selama 1 menit
d. Akuades ditambahkan hingga warna tabung pengencer sama
dengan warna tabung indikator
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Tabel 1. Data Pengamatan Pengukuran Leukosit, Eritrosit
dan Kadar Hb
|
Kelompok
|
Hewan Uji
|
Kadar Hb
(gr/dl)
|
Leukosit
(sel/mm3)
|
Eritrosit
(sel/mm3)
|
|
1
|
Ikan
|
8
|
6700
|
2.075.000
|
|
2
|
2
|
1000
|
720.000
|
|
|
3
|
Ayam
|
4
|
1525
|
1.470.000
|
|
4
|
5
|
8775
|
2.075.000
|
|
|
5
|
Mencit
|
10
|
5850
|
4.525.000
|
Perhitungan :
Leukosit =
x 160 x 10 = 25 L
Diketahui
:
L1
= 23
L2
= 9
L3
= 10
L4
= 19
Luas
Total =
x 160 x 10 = 25 L
=
25 x (L1+L2+L3+L4)
=
25 x 61
=
1525 sel/mm3
Eritrosit =
x 4000 x 100 =
5000 E
Diketahui :
E1 = 66
E2 = 54
E3 = 69
E4 = 59
E5 = 46
E Total =
total x 5000
= 297 x 5000
= 1. 470. 000 sel/mm3
3.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil
pengamatan, jumlah eritrosit dari sampel darah ayam adalah 1.450.000 sel/mm3 (kelompok kami) dan 2.705.000 sel/mm3. Pada ikan nila jumlah eritrositnya
adalah 2.075.000 sel/mm3 dan 720.000 sel/mm3. Pada mencit jumlah eritrositnya 4.525.000
sel/mm3. Jumlah sel
eritrosit pada tiap-tiap spesies adalah berbeda satu sama lain (Legler, 1997). Hasil
pengamatan yang diperoleh untuk jumlah
eritrosit ayam tidak sesuai dengan pustaka, karena kadar eritrosit ayam normal berkisar
2.000.000 – 3.200.000 sel/mm3 (Handayani et
al., 2013) sedangkan jumlah eritrosit yang diperoleh 1.475.000 sel/mm3.
Gambaran darah pada hewan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur,
jenis kelamin, bangsa, penyakit, temperatur lingkungan, keadaan geografis,
kebuntingan dan kegiatan fisik ( Apsari dan Arta, 2010).
Jumlah leukosit pada ayam berkisar antara 16.000-40.000
sel/mm3 (Dukes, 1995), sedangkan pada sel darah ikan 20.000-150.000
sel/mm3 (Moyle and Cech, 2001). Menurut Hoffbrand (1987), jumlah
leukosit pada mamalia adalah 4.000-11.000 sel/mm3. Hasil pengamatan
yang diperoleh ada yang sesuai dengan pustaka yaitu jumlah leukosit pada
mencit. Besarnya jumlah leukosit
selalu dipengaruhi oleh jumlah eritrosit, dimana jumlah leukosit selalu lebih
rendah daripada jumlah eritosit (Bevelander dan Judith, 1979). Penurunan kadar leukosit menyebabkan hewan
menjadi stress ( Ramesh et al., 2008).
Jumlah kadar haemoglobin dalam darah ayam berdasarkan pengukuran sebesar 4 gr/dl dan 5 gr/dl. Pada Ikan 8 gr/dl dan 2 gr/dl. Pada
mencit 10 gr/dl. Menurut Delman dan Ester (1992) mengenai kandungan Hb pada
ayam sekitar 15 – 18 gm/100 ml.
Hematology berasal dari bahasa
Romawi hemat yang berarti darah yang
berarti darah dan ology yang berarti
belajar atau mempelajari. Hematology adalah ilmu yang mempelajari aspek anatomi , fisiologi
dan patologi darah. Komponen darah terdiri plasma dan unsur-unsur pembentuk
darah yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit (Nurcholis et al., 2013). Darah merupakan sistem transpor
yang berfungsi antara lain membawa zat makanan dari saluran pencernaan
menuju jaringan, membawa produk akhir metabolisme dari
sel ke organ ekskresi, serta membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan
yang mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan
mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit, sebagai alat pertahanan mikro
organisme yang masuk ke dalam tubuh (Handayani et al , 2013). Darah merupakan sistem transpor
yang berfungsi antara lain membawa zat makanan dari saluran pencernaan
menuju jaringan, membawa produk akhir metabolisme dari
sel ke organ ekskresi, serta membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan
yang mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan
mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit, sebagai alat pertahanan mikro
organisme yang masuk ke dalam tubuh (Handayani et al , 2013).
Plasma darah adalah cairan kompleks yang mengandung
ion-ion dan molekul organk seta berada dalam keadaan keseimbangan dinamik
dengan cairan tubuh lain. Plasma mengandung 90% air, 7-8% protein, 1%
elektrolit dan 1-2% zat-zat terlarut lainnya. Eritrosit merupakan tipe sel
darah yang berjumlah paling banyak dalam darah. Darah vertebrata memiliki inti
yang bentuknya secara umum oval, kecuali pada mamalia, dalam perkembangannya
eritrosit akan berbentuk cawan bikonkaf, yang dapat mempercepat pertukaran gas
antar sel-sel dan plasma darah (Ville et al.,1984).
Eritrosit merupakan sel darah yang berfungsi untuk
mengangkut oksigen, karbondioksida, dan sari-sari makanan (nutrien),
berdiameter rata-rata 7,5 mikron, berbentuk cakram yang bikonkaf dengan
pinggiran sirkuler ketebalan 1,5 mikron dan pusat yang sangat tipis dan permukaan
cakram yang bikonkaf ini relatife lebar untuk jalannya pertukaran O2
melalui membran (Sutrisno, 1999). Eritrosit memiliki bentuk seperti cakram
kecil bikonkaf, cekung pada kedua isinya sehingga apabila dilihat dari samping
akan tampak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang.
Struktur eritrosit terdiri dari pembungkus luar atau shoma dan masa hemoglobin.
Fungsi utama eritrosit adalah untuk
membawa gas CO2 dan O2 dan secara garis besar rasio luas
permukaannya bergantung pada faktor pertukaran oksigen dan karbondioksida
(Pearce,1989). Eritrosit mempunyai fungsi sebagai penyuplai oksigen dalam darah
dan dalam darah terkandung hemoglobin. Hemoglobin adalah suatu senyawa protein
yang mengandung pigmen porpirofin merah (heme) yang masing-masing mengandung
atom Fe ditambah dengan globin yang merupakan protein globular yang terdiri
atas rantai asam amino. Hemoglobin sendiri berfungsi untuk mengatur oksigen
pada mamalia dan vertebrata (Kimball, 1991).
Leukosit jumlahnya lebih sedikit dari eritrosit, berwarna
putih dan mempunyai kemampuan gerak yang independent. Sel ini berperan dalam
proses kekebalan tubuh. Bentuk leukosit ini sangat bervariasi sesuai dengan
fungsinya masing-masing (Sutrisno, 1999). Leukosit pada hewan vertebrata memiliki beberapa tipe ang semuanya berasal
dari sel precursor yang sama. Sel darah putih dapat dibedakan menjadi dua yaitu
yang memiliki sitoplasma granular (granulosit) dan yang memiliki sitoplasma non
granuler (agranulosit). Granulosit terdiri dari monosit dan limposit. Leukosit
ini berperan dalam pertahanan seluler dan hormonal organisme serta melindungi
tubuh dengan menimbulkan peradangan di
tempat-tempat yang terkena infeksi, memfagositasi mikroba, merusak toksin dan
merusak antibody (Ville at al., 1988).
Praktikum kali ini banyak menggunakan alat-alat yang memang khusus
digunakan untuk perlakuan terhadap darah. Haemositometer fungsinya untuk
menghitung sel darah, baik sel darah putih maupun sel darah merah,
cover glass digunakan untuk menutup
haemositometer saat melakukan pengamatan di bawah mikroskop, mikroskop
digunakan untuk mengamati jumlah eritrosit dan leukosit, pipet thoma sebagai pasangannya berfungsi untuk
pengambilan darah. Ada dua jenis pipet thoma, yaitu pipet thoma eritrosit dan
pipet thoma leukosit. Haemometer berfungsi untuk menghitung kadar haemoglobin
dalam darah. Pipet digunakan untuk mengambil eritrosit dan
larutan HCl dan tabung sahli merupakan pasangan
atau alat pelengkap dari haemometer yang digunakan untuk menampung larutan darah saat akan di ukur kadar
haemoglobinnya, hand
counter untuk menghitung jumlah eritrosit dan leukosit, spuit digunakan
untuk mengambil darah dari hewan uji. Bahan-bahan yang digunakan antara lain darah
dari hewan uji ( ayam, ikan dan mencit), larutan turk digunakan untuk
mengencerkan leukosit, larutan hayem digunkan untuk mengencerkan eritrosit,
larutan HCl untuk menimbulkan reaksi dan menghasilkan warna senyawa hernatin
asam yang berwarna coklat pekat pada hemoglobin, akuades digunakan sebagai
pengencer dan larutan EDTA digunakan untuk mengencerkan darah yang menggumpal. Beberapa
kepustakaan menyebutkan bahwa penggunaan konsentrasi garam EDTA yang
berbeda dapat menyebabkan perbedaan
kuantitas maupun kualitas hasil pemeriksaan. Lamanya penundaan pemeriksaan juga
dapat memberikan hasil yang berbeda untuk parameter tertentu (Aulia, 1988).
IV.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya maka
dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Praktikum hematologi I sudah dilakukan dengan baik walaupun hasilnya masih
kurang sesuai dengan pustaka dan praktikan sudah bisa melakukan pengambilan
darah dari masing-masing preparat hewan walaupun pada awalnya mengalami
kesulitan.
2. Sebagian besar sel darah merah hewan vertebrata berbentuk
lonjong dan berinti kecuali mammalia (bulat dan tidak berinti). Sel darah putih
memiliki banyak variasi bentuk sesuai fungsinya, namun secara garis besar
berbentuk bulat dan berinti besar. Sel darah putih ada yang bergranula dan ada
yang tidak bergranula.
3. Kadar hemoglobin pada setiap spesies berbeda-beda
tergantung pada kebutuhan metabolisme spesies itu sendiri.
4. Jumlah eritrosit dan leukosit dipengaruhi oleh kondisi
fisiologis seperti kondisi tubuh, keadaan stress, umur, varian harian dan jenis
kelamin
DAFTAR
REFERENSI
Apsari, Ida A. P dan I. M. D. Arta.
2010. Gambaran Darah Ayam buras yang terinfeksi Leucocytozon. Jurnal Veteriner 11(2) : 114-118.
Aulia, D. 1988. Pengaruh lamanya Penyimpanan Darah dengan Antikoagulan
Tripotassium Ethylene Diamine Tetracetic Acid (K3Edta) dalam Tabung Vacuette
terhadap beberapa Parameter Hematologi. Perpustakaan Pusat UI, Jakarta.
Bavelender, G. A. dan A. R. Judith.
1979. Dasar-dasar Histologi Edisi 8.
Erlangga, Jakarta.
Bryon, A. S and Doroth. 1973. Text Book of Physiology. St Burst The
Moshy Co Toppon Co Ltd, Japan.
Dukes, H. H. 1995. The Phisiology of Domestic Animals.
Constock Publishing Associates, New York.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press,
Yogyakarta.
Handayani, L., Irianti, N dan Yuwono,
E. Pengaruh Pemberian Minyak Ikan Lemuru terhadap Kadar Eritrosit dan Trombosit
pada Ayam Kampung. Jurnal Ilmiah
Peternakan 1(1) : 39-46.
Hoffbrand, A. V. dan J. E. Pettit.
1987. Haematologi. Penerbit ECG.
Jakarta.
Kimball, J. W. 1991. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta.
Lagler, K. F. 1997. Ichthyology. Jhn Willey and Sons,
Canada.
Moyle, P. B and J. J Cech. 2001. Fisher and Introduction to Ichtyology 4th.
Prentice, Inc. London.
Nurcholis, A., Aziz, M. dan Muftuch.
2013. Ekstrasi Fitur Roudness untuk Menghitung Jumlah Eritrosit dalam Citra Sel
Darah Ikan. Jurnal EECIS 7(1).
Pearce, E. 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Ramesh, M and M Saravanan. 2008. Haematological and
Biochemical Biology responses in a freshwater fish Cyprinus carpio exposed to chlorpyrifos. International Journal of Integrative Biology.
Soetrisno. 1999. Diktat Fisiologi
Ternak. Fakultas Peternakan Unsoed, Purwokerto.
Ville, C. A, Walker, W and Barnes, R.
D. 1988. Zoologi Umum Edisi 6.
Erlangga, Jakarta.

Kadyo Togel Online Casino, New Play Casino in India (2020)
BalasHapusPlay your favorite 온카지노 도메인 casino games. It can be played for real money at any online casino in India. Play the games you love on Kadyo Togel and