Kamis, 27 Maret 2014

LAPORAN FISHEW 1 HEMATOLOGI I


HEMATOLOGI I






logo unsoed




Oleh :
ANDRIANI DIAH IRIANTI




LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I






KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2013
I.  PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengukuran hematologi merupakan pengukuran yang meliputi pengukuran kadar hemoglobin, perhitungan total eritrosit, perhitungan total leukosit dan pengukuran hematokrit. Hematokrit adalah istilah yang menunjukan besarnya volume sel-sel eritrosit seluruhnya di dalam 100 mm3 darah dan dinyatakan dalam persen (%). Nilai Hematrokit adalah suatu istilah yang artinya prosentase berdasarkan volume dari darah, yang terdiri dari sel darah merah (Hoffbrand dan Pettit, 1987).
Darah adalah matrik cairan dan merupakan jaringan pengikat terspesialisasi yang dibentuk dari sel-sel bebas (Bryon and Doroth, 1973). Darah terdiri dari komponen cair yang disebut plasma dan berbagai unsur yang dibawa dalam plasma yaitu sel-sel darah. Sel-sel darah terdiri dari eritrosit atau sel darah merah, yaitu sel yang mengangkut oksigen, leukosit atau sel darah putih yaitu sel yang berperan dalam kekebalan dan pertahanan tubuh dan trombosit yaitu sel yang berperan dalam homeostasis (Frandson, 1992).
Eritrosit mempunyai peran sebagai media transport. Sedangkan leukosit berfungsi sebagai alat pertahanan tubuh sehingga memiliki sifat menembus jaringan tanpa merusak jaringan tersebut. Darah sangat penting bagi organisme, jika kekurangan atau kelebihan sel darah mengakibatkan tidak normalnya proses fisiologis suatu organisme sehingga menimbulkan suatu penyakit (Pearce, 1989). Transport oksigen dalam darah tergantung pada komponen besi dalam pigmen respirasi biasanya haemoglobin. Haemoglobin merupakan bagian dari sel darah merah yang mengikat oksigen. Darah terdiri atas sel-sel dan fragmen-fragmen sel yang terdapat secara bebas dalam medium yang bersifat cair yang disebut plasma darah. Sel-sel dari fragmen sel merupakan unsur darah yang disebut unsur jadi. Sel ini berukuran cukup besar sehingga dapat diamati dengan mikroskop biasa. Plasma darah merupakan bagian yang cair dari darah yang terdiri dari 99 % air dan 8-9 % protein (Kimball, 1988).
Hemoglobin adalah senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen porfirin merah, masing-masing mengandung atom Fe ditambah globulin yang merupakan protein globuler yang terdiri atas empat asam amino. Kadar hemoglobin dan kadar glukosa setiap species berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebutuhan metabolisme species itu sendiri. Hemoglobin bergabung dengan oksigen paru-paru disebut oksihemoglobin (Hoffbrand dan Pettit, 1987).


1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah memberikan ketrampilan pada mahasiswa tentang cara pengambilan darah hewan, mengetahui perbedaan bentuk sel darah pada berbagai hewan, serta cara melakukan perhitungan sel darah merah, sel darah putih dan  kadar hemoglobin  hewan.


II.      MATERI DAN CARA KERJA
2.1 Materi
Materi yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ayam (Galus galus), mencit (Mus musculus) dan ikan gurami (Osphronemus gouramy)  larutan hayem,  larutan turk,  haemometer,  haemositometer,  larutan 0,1 N HCl,  pipet kapiler,  pipet thoma, mikroskop, tabung sahli, spuit, akuades, larutan EDTA, cawan petri, cover glass dan hand counter.

2.2 Cara Kerja
2.2.1 Perhitungan jumlah leukosit (pengenceran 10 kali)
a.   Darah dihisap menggunakan pipet thoma leukosit hingga angka 1
b.   Larutan Turk dihisap hingga angka 11
c.   Pipa karet diambil dari pipet, kemudin pipet dipegang pada kedua ujungnya dengan ibu jari dan telunjuk lalu dikocok selama dua menit
d.   Tetesan larutan darah petama dan kedua dibuang, tetesan ketiga baru digunakan untuk perhitungan.
e.   Bilik hitung disiapkan, cairan dalam pipet diteteskan ke bilik hitung sehingga cairan dapat masuk dengan sendiriya
f.    Bilik hitung dilihat di bawah mikroskop, mula-mula dengan perbesaran lemah, kemudian dengan perbesaran kuat
g.   Jumlah leukosit yang terdapat di bujur sangkar sedang dihitung. Jadi jumlah bujur sangkar yang dihitung menjadi 4 x 16 = 64 bujur sangkar dengan sisi masing-masing 1/4  mm, dengan rumus:
Jumlah leukosit per mm3 =
                       = 25 (L1+L2+L3+L4)

2.2.2 Perhitungan Jumlah Leukosit ( Pengenceran 10 kali)
a.   Darah diisap menggunakan pipet thoma eritrosit hingga angka 1
b.   Larutan Hayem diisap hingga angka 101
c.   Pipa karet diambil dari pipet, kemudin pipet dipegang pada kedua ujungnya dengan ibu jari dan telunjuk lalu dikocok selama dua menit
d.   Tetesan larutan darah petama dan kedua dibuang, tetesan ketigga baru digunakan untuk perhitungan.
e.   Bilik hitung disiapkan, cairan dalam pipet diteteskan ke bilik hitung sehingga cairan dapat masuk dengan sendiriya
f.    Bilik hitung dilihat di bawah mikroskop, mula-mula dengan perbesaran lemah, kemudian dengan perbesaran kuat
g.   Jumlah eritrosit dalam bujur sagkar kecil dihitung, dengan rumus:
Jumlah eritrosit per mm3 =
                          = 5000(E1+E2+E3+E4+E5)

2.2.3 Pengukuran Kadar Hb
a.   Darah diisap menggunakan pipet sahli sampai angka 20µL
b.   Tabung pengencer diisi dengan HCl 0,1 N hingga angka 2
c.   Darah dimasukkan ke tabung pengencer, diaduk dan dibiarkan selama 1 menit
d.   Akuades ditambahkan hingga warna tabung pengencer sama dengan warna tabung indikator










III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Tabel 1. Data Pengamatan Pengukuran Leukosit, Eritrosit dan Kadar Hb
Kelompok
Hewan Uji
Kadar Hb
(gr/dl)
Leukosit
(sel/mm3)
Eritrosit
(sel/mm3)
1
Ikan
8
6700
2.075.000
2
2
1000
720.000
3
Ayam
4
1525
1.470.000
4
5
8775
2.075.000
5
Mencit
10
5850
4.525.000

Perhitungan :
Leukosit =  x 160 x 10 = 25 L                   
Diketahui :
L1 = 23
L2 = 9
L3 = 10
L4 = 19
Luas Total =  x 160 x 10 = 25 L
                  = 25 x (L1+L2+L3+L4)
                  = 25 x 61
                  = 1525 sel/mm3  
Eritrosit =  x 4000 x 100 = 5000 E
Diketahui :
E1 = 66
E2 = 54
E3 = 69
E4 = 59
E5 = 46
E Total = total x 5000
             = 297 x 5000
             = 1. 470. 000 sel/mm3

3.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan, jumlah eritrosit dari sampel darah ayam adalah 1.450.000 sel/mm3 (kelompok kami) dan 2.705.000 sel/mm3. Pada ikan nila jumlah eritrositnya adalah 2.075.000 sel/mm3 dan 720.000 sel/mm3. Pada mencit jumlah eritrositnya 4.525.000 sel/mm3. Jumlah sel eritrosit pada tiap-tiap spesies adalah berbeda satu sama lain (Legler, 1997). Hasil pengamatan yang diperoleh  untuk jumlah eritrosit ayam  tidak  sesuai  dengan pustaka,  karena kadar eritrosit ayam normal berkisar 2.000.000 – 3.200.000 sel/mm3  (Handayani et al., 2013) sedangkan jumlah eritrosit yang diperoleh 1.475.000 sel/mm3. Gambaran darah pada hewan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, bangsa, penyakit, temperatur lingkungan, keadaan geografis, kebuntingan dan kegiatan fisik ( Apsari dan Arta, 2010).
Jumlah leukosit pada ayam berkisar antara 16.000-40.000 sel/mm3 (Dukes, 1995), sedangkan pada sel darah ikan 20.000-150.000 sel/mm3 (Moyle and Cech, 2001). Menurut Hoffbrand (1987), jumlah leukosit pada mamalia adalah 4.000-11.000 sel/mm3. Hasil pengamatan yang diperoleh ada yang sesuai dengan pustaka yaitu jumlah leukosit pada mencit. Besarnya jumlah leukosit selalu dipengaruhi oleh jumlah eritrosit, dimana jumlah leukosit selalu lebih rendah daripada jumlah eritosit (Bevelander dan Judith, 1979).  Penurunan kadar leukosit menyebabkan hewan menjadi stress ( Ramesh et al., 2008). Jumlah kadar haemoglobin dalam darah ayam berdasarkan pengukuran sebesar 4 gr/dl dan 5 gr/dl. Pada Ikan 8 gr/dl dan 2 gr/dl. Pada mencit 10 gr/dl. Menurut Delman dan Ester (1992) mengenai kandungan Hb pada ayam sekitar 15 – 18 gm/100 ml.
Hematology berasal dari bahasa Romawi hemat yang berarti darah yang berarti darah dan ology yang berarti belajar atau mempelajari. Hematology adalah ilmu  yang mempelajari aspek anatomi , fisiologi dan patologi darah. Komponen darah terdiri plasma dan unsur-unsur pembentuk darah yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit (Nurcholis et al., 2013). Darah merupakan sistem  transpor  yang berfungsi antara lain membawa zat makanan dari saluran pencernaan menuju jaringan, membawa produk akhir metabolisme  dari  sel ke organ ekskresi, serta membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan yang mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit, sebagai alat pertahanan mikro organisme yang masuk ke dalam tubuh (Handayani et al , 2013). Darah merupakan sistem  transpor  yang berfungsi antara lain membawa zat makanan dari saluran pencernaan menuju jaringan, membawa produk akhir metabolisme  dari  sel ke organ ekskresi, serta membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan yang mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit, sebagai alat pertahanan mikro organisme yang masuk ke dalam tubuh (Handayani et al , 2013).
Plasma darah adalah cairan kompleks yang mengandung ion-ion dan molekul organk seta berada dalam keadaan keseimbangan dinamik dengan cairan tubuh lain. Plasma mengandung 90% air, 7-8% protein, 1% elektrolit dan 1-2% zat-zat terlarut lainnya. Eritrosit merupakan tipe sel darah yang berjumlah paling banyak dalam darah. Darah vertebrata memiliki inti yang bentuknya secara umum oval, kecuali pada mamalia, dalam perkembangannya eritrosit akan berbentuk cawan bikonkaf, yang dapat mempercepat pertukaran gas antar sel-sel dan plasma darah (Ville et al.,1984).
Eritrosit merupakan sel darah yang berfungsi untuk mengangkut oksigen, karbondioksida, dan sari-sari makanan (nutrien), berdiameter rata-rata 7,5 mikron, berbentuk cakram yang bikonkaf dengan pinggiran sirkuler ketebalan 1,5 mikron dan pusat yang sangat tipis dan permukaan cakram yang bikonkaf ini relatife lebar untuk jalannya pertukaran O2 melalui membran (Sutrisno, 1999). Eritrosit memiliki bentuk seperti cakram kecil bikonkaf, cekung pada kedua isinya sehingga apabila dilihat dari samping akan tampak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang. Struktur eritrosit terdiri dari pembungkus luar atau shoma dan masa hemoglobin. Fungsi utama eritrosit adalah  untuk membawa gas CO2 dan O2 dan secara garis besar rasio luas permukaannya bergantung pada faktor pertukaran oksigen dan karbondioksida (Pearce,1989). Eritrosit mempunyai fungsi sebagai penyuplai oksigen dalam darah dan dalam darah terkandung hemoglobin. Hemoglobin adalah suatu senyawa protein yang mengandung pigmen porpirofin merah (heme) yang masing-masing mengandung atom Fe ditambah dengan globin yang merupakan protein globular yang terdiri atas rantai asam amino. Hemoglobin sendiri berfungsi untuk mengatur oksigen pada mamalia dan vertebrata (Kimball, 1991).
Leukosit jumlahnya lebih sedikit dari eritrosit, berwarna putih dan mempunyai kemampuan gerak yang independent. Sel ini berperan dalam proses kekebalan tubuh. Bentuk leukosit ini sangat bervariasi sesuai dengan fungsinya masing-masing (Sutrisno, 1999). Leukosit pada hewan vertebrata  memiliki beberapa tipe ang semuanya berasal dari sel precursor yang sama. Sel darah putih dapat dibedakan menjadi dua yaitu yang memiliki sitoplasma granular (granulosit) dan yang memiliki sitoplasma non granuler (agranulosit). Granulosit terdiri dari monosit dan limposit. Leukosit ini berperan dalam pertahanan seluler dan hormonal organisme serta melindungi tubuh dengan menimbulkan  peradangan di tempat-tempat yang terkena infeksi, memfagositasi mikroba, merusak toksin dan merusak antibody (Ville at al., 1988).
Praktikum kali ini banyak menggunakan alat-alat yang memang khusus digunakan untuk perlakuan terhadap darah. Haemositometer fungsinya untuk menghitung sel darah, baik sel darah putih maupun sel darah merah, cover glass digunakan untuk menutup haemositometer saat melakukan pengamatan di bawah mikroskop, mikroskop digunakan untuk mengamati jumlah eritrosit dan leukosit, pipet thoma sebagai pasangannya berfungsi untuk pengambilan darah. Ada dua jenis pipet thoma, yaitu pipet thoma eritrosit dan pipet thoma leukosit. Haemometer berfungsi untuk menghitung kadar haemoglobin dalam darah. Pipet digunakan untuk mengambil eritrosit dan larutan HCl dan tabung sahli merupakan pasangan atau alat pelengkap dari haemometer yang digunakan untuk menampung larutan darah saat akan di ukur kadar haemoglobinnya, hand counter untuk menghitung jumlah eritrosit dan leukosit, spuit digunakan untuk mengambil darah dari hewan uji. Bahan-bahan yang digunakan antara lain darah dari hewan uji ( ayam, ikan dan mencit), larutan turk digunakan untuk mengencerkan leukosit, larutan hayem digunkan untuk mengencerkan eritrosit, larutan HCl untuk menimbulkan reaksi dan menghasilkan warna senyawa hernatin asam yang berwarna coklat pekat pada hemoglobin, akuades digunakan sebagai pengencer dan larutan EDTA digunakan untuk mengencerkan darah yang menggumpal. Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa penggunaan konsentrasi garam EDTA yang berbeda  dapat menyebabkan perbedaan kuantitas maupun kualitas hasil pemeriksaan. Lamanya penundaan pemeriksaan juga dapat memberikan hasil yang berbeda untuk parameter tertentu (Aulia, 1988).



IV.          KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan bahwa :
1.      Praktikum hematologi I sudah dilakukan dengan baik walaupun hasilnya masih kurang sesuai dengan pustaka dan praktikan sudah bisa melakukan pengambilan darah dari masing-masing preparat hewan walaupun pada awalnya mengalami kesulitan.
2.      Sebagian besar sel darah merah hewan vertebrata berbentuk lonjong dan berinti kecuali mammalia (bulat dan tidak berinti). Sel darah putih memiliki banyak variasi bentuk sesuai fungsinya, namun secara garis besar berbentuk bulat dan berinti besar. Sel darah putih ada yang bergranula dan ada yang tidak bergranula.
3.      Kadar hemoglobin pada setiap spesies berbeda-beda tergantung pada kebutuhan metabolisme spesies itu sendiri.
4.      Jumlah eritrosit dan leukosit dipengaruhi oleh kondisi fisiologis seperti kondisi tubuh, keadaan stress, umur, varian harian dan jenis kelamin




DAFTAR REFERENSI
Apsari, Ida A. P dan I. M. D. Arta. 2010. Gambaran Darah Ayam buras yang terinfeksi Leucocytozon. Jurnal Veteriner 11(2) : 114-118.
Aulia, D. 1988. Pengaruh lamanya  Penyimpanan Darah dengan Antikoagulan Tripotassium Ethylene Diamine Tetracetic Acid (K3Edta) dalam Tabung Vacuette terhadap beberapa Parameter Hematologi. Perpustakaan Pusat UI, Jakarta.
Bavelender, G. A. dan A. R. Judith. 1979. Dasar-dasar Histologi Edisi 8. Erlangga, Jakarta.
Bryon, A. S and Doroth. 1973. Text Book of Physiology. St Burst The Moshy Co Toppon Co Ltd, Japan.
Dukes, H. H. 1995. The Phisiology of Domestic Animals. Constock Publishing Associates, New York.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press, Yogyakarta.
Handayani, L., Irianti, N dan Yuwono, E. Pengaruh Pemberian Minyak Ikan Lemuru terhadap Kadar Eritrosit dan Trombosit pada Ayam Kampung. Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1) : 39-46.
Hoffbrand, A. V. dan J. E. Pettit. 1987. Haematologi. Penerbit ECG. Jakarta.
Kimball, J. W. 1991. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta.
Lagler, K. F. 1997. Ichthyology. Jhn Willey and Sons, Canada.
Moyle, P. B and J. J Cech. 2001. Fisher and Introduction to Ichtyology 4th. Prentice, Inc. London.
Nurcholis, A., Aziz, M. dan Muftuch. 2013. Ekstrasi Fitur Roudness untuk Menghitung Jumlah Eritrosit dalam Citra Sel Darah Ikan. Jurnal EECIS 7(1).
Pearce, E. 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Ramesh, M and  M Saravanan. 2008. Haematological and Biochemical Biology responses in a freshwater fish Cyprinus carpio exposed to chlorpyrifos. International Journal of Integrative Biology.
Soetrisno. 1999. Diktat Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan Unsoed, Purwokerto.
Ville, C. A, Walker, W and Barnes, R. D. 1988. Zoologi Umum Edisi 6. Erlangga, Jakarta.













1 komentar:

  1. Kadyo Togel Online Casino, New Play Casino in India (2020)
    Play your favorite 온카지노 도메인 casino games. It can be played for real money at any online casino in India. Play the games you love on Kadyo Togel and

    BalasHapus