ANATOMI KATAK SAWAH
(Fejervarya cancrivora)
Andriani Diah Irianti
B1J012011
Asisten : Marlina
LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN 1
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2013
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Nama amphibi berasal dari bahasa Yunani
dengan kata amphi yang berarti rangkap dan bios berarti hidup. Amphibi
merupakan suatu kelompok chordata yang pertama kali keluar dalam kehidupan dalam air.
Beberapa pola menunjukan pola baru yang disesuaikan dengan kehidupan di darat, misalnya :
kaki, paru-paru dan nostril. Amphibia adalah vertebrata yang
secara tipikal dapat hidup baik dalam air tawar dan di darat. Sebagian besar mengalami
metamorfosis dari berudu (akuatis dan bernapas dengan insang) ke dewasa (amfibius dan bernapas dengan
paru-paru), namun beberapa jenis amfibia tetap mempunyai insang dalam hidupnya.
Salah satu yang tergolong kedalamnya adalah katak sawah (Fejervarya cancrivora) (Brotowidjoyo,
1994).
Katak sawah (Fejervarya cancrivora) memiliki ciri-ciri khusus diantaranya
memiliki kulit yang selalu basah dan berkelenjar, tidak bersisik luar. Memiliki
dua pasang kaki untuk berjalan dan berenang, berjari 4 pada kaki bagian depan
dan berjari 5 pada kaki bagian belakang. Tidak memiliki sirip dan pernapasannya
dengan menggunakan insang ketika masih berbentuk berudu dan menggunakan kulit
dan paru-paru ketika telah dewasa. Cor terbagi atas 3 ruangan, yakni dua
ruangan auricula dan satu ventriculum. Terdapat 2 buah nares, mata berkelopak
yang dapat digerakan, mulut bergigi dan berlidah (Storer, 1975).
Katak sawah (Fejervarya cancrivora) memiliki
karakter yang unik. Katak sawah (Fejervarya
cancrivora) digunakan untuk
preparat pada praktikum kali ini
sebagai wakil dari kelas amphibia. Selain banyak terdapat di
alam sehingga mudah diperoleh
ukurannya cukup besar. Katak sawah (Fejervarya
cancrivora) menunjukan
banyak persamaan bentuk dan fungsi dengan vertebrata tinggi termasuk manusia.
Katak sawah (Fejervarya cancrivora) susunan tubuhnya mudah dipelajari dan
diamati.
B.Tujuan
Tujuan dari praktikum Struktur
dan Perkembangan Hewan 1 kali ini adalah untuk mengetahui Morfologi dan Anatomi
Katak sawah (Fejervarya cancrivora).
II.
ALAT DAN METODE
A.
Materi
Alat- alat yang digunakan adalah bak preparat,
pinset, gunting bedah.
Bahan yang digunakan adalah Katak sawah (Fejervarya cancrivora), tissue.
B. Metode
Metode yang digunakan dalam
praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Katak
ditusuk bagian otaknya.
2. Rongga
mulut diamati dengan dibuka lebar-lebar.
3. Katak
diletakkan dengan bagian dorsal pada bak preparat.
4. Kulit
katak digunting dari medio posterior ke arah anterior, kemudian kulit dilepas
dengan hati-hati.
5. Otot-otot
pada tubuh bagian ventral dan pada extrimitas posterior diamati dan dicatat.
6. Tubuh
bagian ventral digunting agar bias melihat organ dalamnya.
7. Dinding
perut sebelum medio posterior dijepit dengan pinset dan sedikit diankat.
8. Lapisan
otot disebelah kiri dan kanan linea alba digunting dengan hati-hati untuk
menjaga kemungkinan terpotongnya vena abdominalis di bawah linea alba.
Pengguntingan dilanjutkan dengan arah anterior sampai kira-kira dekat
exiphisternum, kemudian ke kiri dan ke kanan sampai pangkal lengan atas.
9. Organ-organ
yang nampak diamati dan dicatat tanpa mengubah posisinya.
10. Mulai
dari pangkal oesophagus sampai ujung rectum dipotong, kemudian selaput yang
menahan organ tersebut dengan dinding tubuh sebelah dorsal (selaput
mesenterium) digunting.
11. Mesenterium
yang melekat antara gastrum dan duodenum dibiarkan karena pada selaput ini
melekat pankreas.
12. Organ-organ
yang menunjukkan sistem pencernaan diamati dan dicatat.
13. Sistem
urogenitalia yang terdapat di bawah intestinum diamati dan dicatat.
B.
Pembahasan
Katak sawah (Fejervarya cancrivora) termasuk dalam kingdom Animalia, phylum
Chordata, subphylum Vertebrata, class Amphibia, ordo Anura, family Ranidae,
genus Fejervarya. Katak sawah (Fejervarya
cancrivora) terdiri dari empat bagian yaitu caput, truncus, extrimitas
anterior dan extrimitas posterior. Caput berbentuk segi tiga dan memiliki beberapa organ yaitu cavum oris,
organon visus, membrane tymphani dan nares externa. Cavum oris berukuran lebar
dan tidak berada diujung kepala, tetapi sedikit ke bawah. Cavum oris membelah
secara horizontal hampir keseluruh bagian kepala. Nares externa berukuran
kecil, membran tymphani berbentuk cincin berwarna coklat kehitam-hitaman
(Pujaningsih, 2007)
Truncus pendek dan kompak,
memipih pada bagian distal yaitu daerah yang menempati vertebrae sacrales.
Lubang cloaca terletak terminal. Extrimitas anterior pendek tetapi
bagian-bagian dapat dikenal, karena adanya 4 buah jari disetiap bagiannya.
Extrimitas posterior lebih panjang
dengan 5 buah jari yang disela-selanya terdapat selaput renang (web)
yang membantu katak berenang. Extrimitas posterior terdiri dari femur, crus dan
pes. Kulit katak dilengkapi dengan kelenjar-kelenjar yang menghasilkan lendir
pada epidermis dan salurannya bermuara dipermukaan kulit (Pujaningsih, 2007)
Sistem pencernaan pada katak
terdiri atas rongga mulut (cavum oris), pharynk, oesophagus, gastrum, duodenum,
intestine, colon dan cloaca. Bangunan-bangunan yang berada di dalam cavum oris
ialah dentis dan lingua. Cavum oris sebelah anterior berpangkal lingua dengan
ujung yang bebas di sebelah posterior. Ujungnya berlekuk sehingga tampak
bercabang dan oleh karena itu disebut bifida. Lingua dapat dijulurkan keluar
dengan cepat yang berfungsi untuk menangkap dan memasukkan mangsanya ke dalam
mulut (Radiopoetro, 1977). Kerongkongan adalah salah satu organ pencernaan
makanan yang terletak di sebelah dorsal dari tenggorokan. Kerongkongan pada
bangsa ikan dan amphibian lebih pendek dari pada bangsa reptilian karena pada
bangsa ikan dan amphibian tidak mempunyai leher (Kent, 1983). Menurut Djuhanda (1982), rongga mulut
(cavum oris) pada katak terdapat beberapa organ yang dapat dilihat antara lain
lidah (lingua). Pangkal lingua melekat pada ujung anterior dan ujung dari
lingua bifurkat (bercabang). Katak terdapat choane di bagian langit-langit.
Menurut Radiopoetro (1977) sistem
ekskretori pada katak sawah (Fejervarya cancrivora) terdiri dari ren,
ureter, vesica urinaria dan papilla urogenitalis yang terdapat pada sepasang
ren yang memanjang. Ureter adalah saluran yang keluar dari ren. Pada dinding
ventral kloaka terdapat sebuah tonjolan ke luar berupa kantung dua lobi yang
meluas ke dalam cavum abdominale. Kantung ini berfungsi untuk menyimpan urin
sehingga disebut vesica urinaria. Cairan yang terdapat di dalamnya dapat
mengalami reabsorbsi ke dalam peredaran darah dan berfungsi untuk mencegah
kekeringan tubuhnya.
Reproduksi pada vertebrata umumnya sama, tetapi karena tempat hidup,
perkembangan anatomi dan cara hidup yang berbeda menyebabkan adanya perbedaan
pada proses fertilisasi. Sistem reproduksi pada katak jantan terdiri atas
testis, vassa efferentia, vesica seminalis, corpus adiposum yang merupakan
bahan cadangan makanan yang digunakan pada musim perkelaminan. Katak jantan
mempunyai sepasang testis (bentuknya oval, warnanya keputih – putihan) terletak
di sebelah atas ginjal. Testis diikat oleh alat penggantungnya yang disebut
mesorchium. Testis terdapat saluran yang disebut vassa efferentia yang bermuara
di cloaca. Bagian ureter yang dekat cloaka mengalami pembesaran yang disebut
vesica seminalis yang berfungsi untuk penampungan sementara spermatozoa (Zug,1993).
Organ reproduksi katak betina terdiri atas sepasang ovarium yang terdapat pada
bagian belakang rongga tubuh diikat oleh penggantungnya yang disebut
mesovarium. Katak betina ketika musim kawin pada ovarium terpadat, ovum yang
masak akan menuju ke saluran yang disebut oviduct. Bagian posterior oviduct
membesar membentuk uterus. Selanjutnya telur dikeluarkan melalui cloaka keluar
dari tubuh. Katak sendiri terjadi fertilisasi eksternal (pembuahan di luar
tubuh) dan pada musim kawin terjadi isyarat kawin oleh katak jantan dan katak
betina. Perkawinan dilakukan dengan cara katak jantan menempel di atas punggung
katak betina, lalu keduanya menyemprotkan sel–sel gametnya ke luar tubuh (Zug,1993).
Organ utama sekresi pada katak yaitu ginjal dan organ yang lainnya
terdiri atas kandung kemih, ureter. Ginjal amphibi sama dengan ginjal ikan air
tawar yaitu berfungsi untuk mengeluarkan air yang berlebih. Karena kulit katak
permeabel terhadap air, maka pada saat ia berada di air, banyak air masuk ke
tubuh katak secara osmosis. Katak yang berada di darat harus melakukan
konservasi air dan tidak membuangnya. Katak menyesuaikan dirinya terhadap
kandungan air sesuai dengan lingkungannya dengan cara mengatur laju filtrasi
yang dilakukan oleh glomerulus, sistem portal renal berfungsi untuk membuang
bahan – bahan yang diserap kembali oleh tubuh selama masa aliran darah melalui
glomerulus dibatasi. Kantong urin merupakan derivat ektodermal dari cloaka.
Ureter pada katak bermuara pada cloaka dan urin dari sini akan diserap kembali
ke dalam kantong urin (Villee et al.;
1988).
Sistem
otot pada katak dibagi menjadi empat bagian, yaitu sistem otot pada bagian
kepala, sistem otot daerah pectoral, sistem otot daerah abdomen atau ventral dan sistem otot pada
extrimitas posterior. Hasil dari
pengamatan yang didapat adalah bahwa
sistem otot daerah abdomen
atau ventral dari katak sawah (Fejervarya cancrivora) terdiri dari musculus rectus abdominis,
musculus obliqus externus, musculus obliqus internus. Musculus rectus abdominis
terdapat medio ventral tubuh yang ditengahnya terdapat tendo berwarna putih
yang disebut linea alba dan juga terdapat inscriptio tendinae yang berjumlah empat pasang (Moment,1967).
Sistem otot pada extrimitas
posterior dari Katak sawah (Fejervarya cancrivora) terdiri dari dua bagian yaitu pada bagian
femur (paha) dan crus (betis). Pada bagian femur dapat dikenali otot dari arah
lateral ke medial antara lain : musculus trisep femoris, musculus sartorius,
musculus adductor magnus, musculus gracillis mayor dan musculus gracillis
minor. Sedangkan otot yang membangun bagian dari betis katak sawah antara lain
: musculus gastronimeus, musculus tibialis anticus longus, musculus tibialis
anticus brevis dan musculus tibialis posticus. Hal ini sesuai pernyataan dari
Moment (1967) yang menyatakan bahwa Daerah extrimitas posterior terdapat
musculus trisep femoris, musculus gracillis minor, musculus gracillis mayor,
musculus sartorius, musculus adductor magnus. Bagian crus dibangun oleh
musculus gastronimeus, musculus tibialis anticus longus, musculus tibialis
anticus brevis, musculus tibialis posticus dan juga terdapat otot tendon dan
tulang tibio fibula.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.
Bagian tubuh katak sawah (Fejervarya cancrivora) terdiri atas empat bagian
yaitu: caput (kepala), badan (truncus), extrimitas anterior dan extrimitas
posterior.
2.
Organ
yang menyusun sistem pencernaan pada katak sawah (Fejervarya cancrivora) secara berurutan adalah cavum oris, pharynk, oesophagus, gastrum, intestine, colon dan berakhir di cloaca.
3.
Organ
ekskresi dari katak sawah (Fejervarya cancrivora) yaitu
ren, ureter, vesica urinaria dan papilla urogenitalis
4.
Organ reproduksi atau genitalia pada katak sawah (Fejervarya cancrivora) jantan terdiri
dari : testis, vassa efferentia, vesica
seminalis dan corpus adiposum.
5.
Organ reproduksi atau genitalia pada katak sawah (Fejervarya cancrivora) betina
terdiri atas sepasang ovarium,
oviduct, uterus dan cloaca..
6.
Sistem otot daerah extrimitas posterior dari Katak sawah (Fejervarya cancrivora) terdiri atas : musculus trisep femoris, musculus gracillis minor, musculus
gracillis mayor, musculus sartorius, musculus adductor magnus pada bagian
femur (paha). Sedangkan pada bagian
crus dibangun oleh musculus gastronimeus, musculus tibialis anticus longus,
musculus tibialis anticus brevis, musculus tibialis posticus dan juga terdapat
tedon dan tulang tibio fibula.
DAFTAR REFERENSI
Brotowidjoyo, M.
D. 1994. Zoology Dasar. Erlangga, Jakarta.
Djuhanda, T. 1982. Anatomi dari Empat
Species Hewan Vertebrata. Armico, Bandung.
Kent, George C. 1983. Comparative Anatomy of the Vertebrata. C. V.
Mosby Company St. Louis
Moment, G. B. 1967. General Zoology. Bentley
Glass, Boston.
Pujaningsih, R. I. 2007. Kodok Lembu. Kanisius, Yogyakarta.
Radiopoetro. 1977. Zoologi. Erlangga, Jakarta.
Storer dan Usinger. 1975. General Zoologi. Mc Graw-Hill, New
Dehli.
Villee,
C. A., W. F. Walker and R. D. Barries. 1988. General Zoology. W. B. Sauders
Company, Philadelphia.
Zug,
George R. 1993. Herpetolology: an Introduction Biology of Ampibians and
Reptiles. Academic Press, London.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar