Super Junior - Donghae

Jumat, 10 Juli 2015

LAPORAN MORFOLOGI ANGGREK

MORFOLOGI ANGGREK












Oleh:
Nama                      : Andriani Diah Irianti
NIM                        : B1J012011
Rombongan           : IV
Kelompok              : 2
Asisten                    : Puspa Oktariani



LAPORAN PRAKTIKUM ORCHIDOLOGI







KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015


I.     PENDAHULUAN
a.    Latar Belakang
Anggrek merupakan salah satu suku tumbuhan yang memiliki banyak anggota. Keluarga anggrek termasuk suku Orchidaceae merupakan kelompok tumbuhan berbunga yang mempunyai anggota paling banyak, dengan 700-800 marga dan 25.000 sampai 35.000 jenis (Luan et al., 2006). Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman jenis anggrek spesies atau anggrek alam terbanyak di dunia. Kekayaan suku Orchidaceae di Indonesia diperkirakan setidaknya terdapat 4.000 jenis. Keanekaragaman terbesar ditemukan di Papua yaitu sekitar 2.000 jenis (Whitten & Whitten, 2003).
Anggrek alam atau anggrek hutan biasanya dikenal sebagai anggrek spesies. Anggrek - anggrek spesies ini tumbuh secara alami di tempat - tempat yang tidak dipelihara oleh manusia. Anggrek-anggrek spesies ini memegang peranan penting sebagai induk persilangan (Purwantoro, 2002). Anggrek yang banyak ditanam sebagai tanaman hias atau dekoratif ruangan memiliki bentuk, warna dan ukuran yang bervariasi. Bunganya terdiri dari 3 sepal dan 3 petal, petal yang terletak di paling bawah meupakan petal yang temodifikasi menjadi labellum seperti bentuk bibir, memiliki warnanya lebih mencolok dibandingkan petal atasnya. Warna yang mencolok dan beraneka ragam warna pada bunga anggrek inilah yang meningkatkan nilai hiasnya (Deepti et al., 2013).
Anggrek memiliki permukaan daun yang dilapisi kutikula (lapisan lilin) yang dapat melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Kedudukan daun tersusun secara berjajar berseling. Batang anggrek yang menebal merupakan batang semu yang dikenal dengan istilah pseudobulb berfungsi sebagai penyimpan air dan cadangan makanan yang digunakan untuk bertahan dalam keadaan kering. Batang dan daun anggrek mengandung klorofil, hal ini sangat membantu dalam penyerapan sinar matahari untuk fotosintesis. Klorofil pada batang anggrek tidak mudah hilang atau terdegradasi walaupun daun-daunnya telah gugur, oleh sebab itu anggrek juga memiliki julukan evergreen (Sastrapradja, 1980).
Anggrek memiliki akar yang berbentuk silinder dan berdaging, lunak serta mudah patah  dengan ujung meruncing licin dan sedikit lengket. Dalam keadaan kering akar tampak putih keperakan pada bagian luarnya dan hanya pada bagian ujung akar saja yang berwarna hijau atau tampak agak keunguan. Akar pada anggrek berfungsi untuk mengambil, menyerap, dan mengantarkan zat hara ke seluruh bagian tanaman. Fungsi lain dari akar adalah menempelkan dirinya pada tempat atau media tumbuh (Puspitaningtyas & Mursidawati, 1999).
Anggrek memiliki bunga dengan lima bagian utama, yaitu sepal (daun kelopak), petal (daun mahkota), stamen (benang sari), pistil (putik) dan ovary (bakal buah). Tipe sepal dan petal dari masing-masing jenis anggrek berbeda-beda berdasarkan bentuk, warna dan ukurannya. Satu buah sepal bagian atas disebut sepal dorsal, sedangkan dua lainnya disebut sepal lateral.  Salah satu dari petal bunga anggrek termodifikasi menjadi bibir bunga (labellum) yang merupakan bagian terpenting karena merupakan alat reproduksi anggrek. Bagian dekat labellum disebut dengan column yang merupakan perpanjangan gagang bunga atau bakal buah. Bibir bunga memiliki gumpalan-gumpalan seperti massa sel (callus) yang mengandung protein, minyak dan zat pewangi fungsinya untuk menarik serangga (Iswanto, 2005).

b.   Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini yaitu mengetahui morfologi organ vegetatif dan dapat membedakan akar, batang, daun anggrek berdasarkan cara hidupnya.










II.  MATERI DAN METODE
a.    Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu buku gambar, alat tulis dan kamera.
Bahan yang digunakan antara lain anggrek Dendrobium sp., Mokara sp. dan Vanda sp.

b.   Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu:  
1.    Alat dan bahan dipersiapkan terlebih dahulu.
2.    Anggrek Dendrobium sp., Mokara sp. dan Vanda sp. digambar pada buku gambar yang telah disediakan.
3.    Gambar yang telah dibuat, diberi keterangan bagian-bagian dan klasifikasinya.














III. HASIL DAN PEMBAHASAN
a.      Hasil






 









b.      Pembahasan
Praktikum kali ini mengamati morfologi dari anggrek Dendrobium sp., Mokara sp., dan Vanda sp. Setiap jenis anggrek memiliki karakter morfologi yang berbeda. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk daun, letak daun, batang, akar, bunga, dan buah.
1.    Anggrek Dendrobium sp.
Anggrek Dendrobium sp. merupakan tanaman bunga yang tahan lama dan bunga potongnya yang berwarna-warni. Genus Dendrobium sp. merupakan genus terbesar ketiga dari keluarga Orchidaceae, yang terdiri 1.184 spesies di seluruh dunia. Genus Dendrobium sp. diproduksi dalam rangka untuk membuat pilihan warna baru untuk tanaman hias. Anggrek Dendrobium sp. merupakan  salah satu anggrek yang paling umum diproduksi komersial sebagai bunga potong dan tanaman pot dan merupakan genus yang paling populer di industri hortikultura(Mehraj et al., 2014). Berikut ini klasifikasi anggrek Dendrobium sp. menurut APG III (2009), adalah sebagai berikut:
Kingdom                     : Plantae                
Divisio                         : Magnoliophyta
Class                            : Lilidae
Ordo                            : Asparagales
Family                         : Orchidaceae
Genus                          : Dendrobium
Species                        : Dendrobium sp
Hasil Pengamatan selama praktikum morfologi anggrek yaitu, anggrek Dendrobium memiliki tipe pembungaan akram, pembungaannya racemosa, bentuk bunga bulat, sepal dorsal oblong dan bentuk petal bulat telur (obovate), pseudobulbus homoblastik dan pertumbuhan batang simpodial. Selain itu, Dendrobium sp. memiliki bentuk daun lanceolate (lanset), dengan ujung daun lancip, tepinya rata, dan daunnya saling berseling. Bunganya terbagi atas sepal dorsal sejumlah 1, petal sejumlah 2, sepal lateral sejumlah 2, dan labellum sejumlah 1. Labellum pada Dendrobium sp. menjulur berbentuk sepatu. Menurut Prasetyo (2009), Dendrobium sp. memiliki pola pertumbuhan simpodial, kekhasan tersendiri jenis ini yaitu dapat mengeluarkan tangkai bunga baru di sisi-sisi batangnya. Umumnya, anggrek ini memiliki tipe simpodial dan  bersifat epifit.
2.    Anggrek Vanda sp.
Anggrek Vanda sp. merupakan salah satu jenis anggrek yang sangat populer dikalangan masyarakat luas. Anggrek Vanda umumnya dimanfaatkan sebagai tanaman hias dan bunga potong. Bunga Vanda memiliki keanekaragaman yang bervariasi, sehingga Vanda memiliki penggemar yang tidak akan pernah surut. Keunggulan anggrek ini yaitu memungkinkan untuk dibuat hibrida-hibrida baru karena variasi warna bunga yang beranekaragam (Hartanti et al., 2014).  Menurut Purwanto & Semiarti (2009), anggrek Vanda sp. merupakan anggrek yang tumbuh bagus di daerah tropis. Anggrek ini tersebar dari Himalaya, Cina Selatan kemudian menyebrang ke Srilanka dan Thailand, hingga sampai ke Indonesia. Anggrek dari genus Vanda sp. dikenal memiliki ukuran dan bentuk bunga yang beragam. Selain itu, anggrek ini juga memiliki banyak variasi dan kombinasi warna yang menarik. Berikut ini klasifikasi anggrek Vanda sp. menurut menurut APG III (2009), adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Plantae         
Divisio             : Magnoliophyta
Class                : Lilidae
Ordo                : Asparagales
Family             : Orchidaceae
Genus              : Vanda
Species            : Vanda sp.
Hasil pengamatan yang dilakukan, anggrek Vanda sp. memiliki tipe pembungaannya racemosa, posisi pembungaannya terletak pada ketiak (pleuran), dan tipe pertumbuhan batang monopodial. Selain itu, Vanda sp. memiliki bentuk daun pita (linear), dengan ujung daun bergerigi 3, dan tepinya rata. Menurut Purwanto & Semiarti (2009), secara morfologi anggrek Vanda memiliki bunga yang tersusun dalam rangkaian berbentuk tandan, terdiri atas satu sampai lebih dari 15 kuntum bunga dengan ukuran sedang sampai besar. Bagian utama bunga ini yaitu terdiri dari sepal, petal, stamen, pistilum, ovari dan labellum. Sepal berjumlah 3 yang terdiri atas 1 sepal dorsal, dan 2 sepal lateral. Labelum mempunyai tiga taji. Bagian tengah bunga terdapat alat reproduksi jantan dan betina. Serbuk sarinya mengandung alat reproduksi jantan berwarna kuning dan tertutup oleh anther cap, sementara putik terletak dibagian bawah columna, sepal, petal serta menyatu pada dasar bunga. Daun anggrek Vanda sp. memiliki bentuk linera samapai lanset (lanceolate) dengan ujung runcing (acutus). Batang vanda termasuk tanaman anggrek monopodial, artinya batang tumbuh tegak ke atas tak terbatas. Bentuk batang anggrek ini yaitu lurus, ramping, dan tidak berumbi.
3.    Anggrek Mokara sp.
Mokara sp. merupakan anggrek kerabat dari Vanda, dan merupakan  hasil persilangan trigenerik yaitu persilangan antara Arachnis x Ascocentrum x Vanda (Widiastoety, 2014). Menurut Sarwono (2002), anggrek Mokara sp. banyak digunakan sebagai bunga potong antara lain Mokara Chan Kuan yang berwarna merah jambu cerah dan Mokara Khaw Phaik kuning cerah. Hasil pengamatan pada anggrek Mokara sp. memiliki tipe pembungaan racemosa, pertumbuhan batang monopodial, bentuk daun pita (linear), dengan ujung daun membelah, dan memiliki taji. Berikut ini Berikut ini klasifikasi anggrek Mokara sp. menurut menurut APG III (2009), adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Plantae         
Divisio             : Magnoliophyta
Class                : Lilidae
Ordo                : Asparagales
Family             : Orchidaceae
Genus              : Mokara
Species            : Mokara sp.
Berdasarkan habitat (tempat tumbuh) anggrek dibedakan menjadi empat kelompok  (Darmono, 2003), sebagai berikut:
1.    Anggrek epifit, yaitu anggrek yang hidup menumpang pada batang atau cabang tanaman lain tanpa merugikan tanaman inangnya. Anggrek ini membutuhnkan naungan dari cahaya matahari. Contoh: Phalaenopsis sp. (anggrek bulan), Dendrobium sp. dan Cattleya sp.
2.    Anggrek terestial, yaitu anggrek yang hidup atau tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya matahari langsung. Contoh: Renanthera sp., Aerides sp., Rynchostylis sp, Vanda sp., dan Arachnis sp. (Anggrek Kalajengking atau Ketonggeng atau anggrek laba laba).
3.    Anggrek litofit, yaitu anggrek yang hidup dibatu-batuan serta tahan terhadap cahaya matahari penuh dan hembusan angin kencang. Contoh: Cytopdium sp., Paphiopedilum sp., dan Dendrobium phalaenopsis.
4.    Anggrek saprofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau kompos juga daun-daun kering serta membutuhkan sedikit cahaya matahari. Contoh: Calanthe sp., dan Goodyera sp.
 Anggrek umumnya memiliki akar yang berbentuk silindris, berdaging, lunak dan mudah patah. Anggek memiliki bagian ujung meruncing, licin dan sedikit lengket. Akar anggrek dalam keadaan kering, akan tampak berwarna putih keperak-perakan dan hanya bagian ujung akar saja yang berwarna hijau atau tampak agak keunguan. Akar yang sudah tua akan berwarna coklat tua dan kering (Latif, 1960). Anggrek epifit mempunyai dua jenis akar yaitu akar lekat dan akar gantung (akar udara). Akar lekat adalah akar yang menempel pada substrat yang berfungsi untuk memperkuat kedudukan tanaman, sedangkan akar gantung adalah akar akar yang mengantung di udara yang berfungsi membantu pernafasan. Akar pada anggrek berfungsi untuk mengambil, menyerap, dan mengantarkan zat hara ke seluruh bagian tanaman. Fungsi lain dari akar adalah menempelkan dirinya pada tempat atau media tumbuh. Akar udara terdapat lapisan velamen yang berongga dan berfungsi untuk menyerap air dan udara. Akar udara dapat juga melakukan  fotosintesis karena megandung butiran hijau daun (klorofil). Lapisan velamen pada akar udara terdapat Mycorhiza ( myco = cendawan; rhizome = akar ) atau cendawan yang hidup dalam akar tumbuhan. Mycorhiza hidup secara simbiosis yaitu dengan memfiksasi fosfat untuk ditukarkan dengan hidrat dari tumbuhan (Gunaldi, 1977).
Secara morfologi, tanaman anggrek terdiri dari beberapa bagian yaitu sebagai berikut:
1.    Akar
Akar anggrek berbentuk silindris, berdaging, lunak dan mudah patah. Bagian ujung akar meruncing, licin dan sedikit lengket. Dalam keadaan kering, akar tampak berwarna putih keperak-perakan dan hanya bagian ujung akar saja berwarna hijau atau tampak agak keunguan. Akar yang sudah tua akan berwarna coklat tua dan kering. Akar anggrek berfilamen, yaitu lapisan luar yang terdiri dari beberapa lapis sel berongga dan transparan, serta merupakan lapisan pelindung pada sistem saluran akar (Latif, 1960).
2.    Batang
Batang tanaman anggrek beranekaragam, ada yang ramping, gemuk berdaging seluruhnya atau menebal di bagian tertentu saja, dengan atau tanpa umbi semu (pseudobulb). Berdasarkan pertumbuhannya, batang anggrek dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu tipe simpodial dan tipe monopodial (Darmono, 2003). Batang tipe simpodial yaitu mempunyai beberapa batang utama dan berumbi semu (pseudobulb) dengan pertumbuhan ujung batang terbatas. Pertumbuhan batang akan terhenti bila telah mencapai maksimal contohnya Dendrobium dan Cattleya. Batang tipe monopodial yaitu mempunyai batang utama dengan pertumbuhan tidak terbatas. Bentuk batangnya ramping tidak berumbi. Tangkai bunga keluar di antara dua ketiak daun, contohnya genus Vanda, Aranthera dan Phalaenopsis.
3.    Daun
Bentuk daun anggrek terdiri dari bermacam-macam bentuk, ada yang bulat telur (Renanthera coccinea),bulat telur terbalik, artinya bagian daun yang bagian atas lebar dan bagian pangkal kurang lebar, memanjang bagai pita atau serupa daun tebu. Daun jenis Coelogyne dan Spathoglottis mendekati bentuk daun kunyit, sedangkan daun genus Dendrobium dan Phalaenopsis berbentuk bulat memanjang (Latif, 1960).
Tebal daun beragam, dari tipis sampai berdaging dan kaku, permukaannya rata. Daun tidak bertangkai, sepenuhnya duduk pada batang. Bagian tepi tidak bergerigi (rata) dengan ujung daun terbelah. Tulang daun sejajar dengan tepi daun dan berakhir di ujung daun. Susunan daun berseling-seling atau berhadapan. Warna daun anggrek hijau muda atau hijau tua, kekuningan dan ada pula yang bercak-bercak. Anggrek daun memiliki daun atau tulang daun yang berwarna dan disanalah terletak keindahan jenis-jenis anggrek daun itu (Latif, 1960).
4.    Bunga
Bunga anggrek tersusun dalam karangan bunga. Jumlah kuntum bunga pada satu karangan dapat terdiri dari satu sampai banyak kuntum. Karangan bunga pada beberapa spesies letaknya terminal, sedangkan pada sebagian besar letaknya aksilar (Latif, 1960).  Bunga anggrek memiliki beberapa bagian utama yaitu sepal (daun kelopak), petal (daun mahkota), stamen (benang sari), pistil (putik) dan ovarium (bakal buah). Sepal anggrek berjumlah tiga buah. Sepal bagian atas disebut sepal dorsal, sedangkan dua lainnya disebut sepal lateral. Anggrek memiliki tiga buah petal, petal pertama dan kedua letaknya berseling dengan sepal. Petal ketiga mengalami modifikasi menjadi labellum. Warna bunga tananam anggrek sangat bervariasi dan berfungsi untuk menarik serangga hinggap pada bunga untuk mengadakan polinasi (penyerbukan).
5.    Biji
Bunga anggrek mengandung ribuan sampai jutaan biji yang sangat halus, berwarna kuning sampai coklat. Pembiakkan dengan biji lebih sukar dibandingkan dengan cara-cara lainnya, karena biji anggrek sangat kecil dan mudah diterbangkan angin. Selain itu, biji anggrek keadaannya tidak sempurna karena tidak mempunyai lembaga atau cadangan makanannya, maka pembiakan dengan biji yang dilakukan orang bertujuan untuk mendapatkan jenis baru. Biji diperolehnya dari penyerbukan serbuk sari pada putik. Penyerbukan anggrek yang berada di hutan terjadi melalui bantuan serangga. Namun, secara sengaja kita dapat melakukan penyerbukan, dengan mengambil serbuk sari dengan alat dan letakkan pada kepala putik sehingga terjadi pembuahan (Sumartono,1981).










IV.   KESIMPULAN DAN SARAN
a.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1.    Morfologi organ vegetatif anggrek terdiri dari akar, batang dan daun.
2.    Anggrek berdasarkan habitat (tempat tumbuh) dibedakan menjadi empat yaitu anggrek epifit, terrestrial, saprofit dan litofit.
3.    Dendrobium sp. termasuk anggrek epifit dan tipe pertumbuhan batang simpodial. Vanda sp. merupakan anggrek monopodial yang termasuk ke dalam anggrek epifit dan Mokara sp. merupakan anggrek epifit dan memiliki pola pertumbuhan monopodial.

b.   Saran
Seharusnya untuk preparat anggrek perlu diperbanyak lagi, agar setiap kelompok tidak perlu bergantian untuk mengamati sehingga menghemat waktu untuk menggambar morfologinya.












DAFTAR REFERENSI
Darmono, W. D. 2003. Menghasilkan Anggrek Silangan. Depok: Penebar Swadaya.
Deepti, S., Gayatri M. C. dan Sarangi S. 2013. Morphological and Biochemical Changes In Pollinated Flowers of Different Aerides Species. Current Botany, 4(2), pp. 33-37.
Gunadi, T. 1977. Kenal Anggrek. Bandung: Penerbit Angkasa.
Hartanti, S., Sumijati, Pardono dan Ongko Cahyono. 2014. Perbaikan Genetik Anggrek Alam Vanda spp. Melalui Persilangan Interspesifik dalam Mendukung Perkembangan Anggrek di Indonesia. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 29(1), pp. 31-34.
Iswanto, H. 2005. Merawat dan Membungakan Anggrek Phaleonopsis (Ed. Revisi). Jakarta: Agromedia Pustaka.
Latif, S. M. 1960. Bunga Anggrek Permata Belantara Indonesia. Bandung: Sumur Bandung.
Luan V. Q., N. Q. Thien, D. V. Khiem, dan D. T. Nhut. 2006. In Vitro Germination Capacity and Plant Recovery of Some Native and Rare Orchids. Nong Lam University Ho Chi Minh City. Vietnam Proceedings of International Workshop of Biotechnology in Agriculture.
Mehraj, H., K. J. Shikha, A. Nusrat, I. H. Shiam dan A. F. M. J. Uddin. 2014. Growth and Flowering Behaviour of Dendrobium Cultivars. Journal of Bioscience and Agriculture Research, 2(2), pp. 90-95.
Prasetyo, C. H. 2009. Teknik Kultur Jaringan Anggrek Dendrobium sp. di Pembudidayaan Anggrek Widorokandang Yogyakarta. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Purwantoro, A. 2002. Kekerabatan Antar Anggrek Spesies Berdasarkan Sifat Morfologi Tanaman dan Bunga. Yogyakarta: Fakultas Pertanian UGM.
Purwantoro, A. W. dan E. Semiarti. 2009. Pesona Kecantikan Anggrek Vanda. Yogyakarta: Kanisius.
Puspitaningtyas, D. M., dan S. Mursidawati. 1999. Koleksi Anggrek Kebun Raya Bogor. Bogor: UPT Balai Pengembangan Kebun Raya-LIPI.
Sastrapraja, S. 1980. Jenis-jenis Anggrek. Lembaga Biologi Nasional LIPI. Balai Pustaka, Jakarta.
Sarwono, B. 2002. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis Menghasilkan Anggrek Potong Kualitas Prima. Tangerang: PT AgroMedia Pustaka.
Sumartono. 1981. Anggrek Untuk Rakyat. Jakarta: PT Bumi Restu.
Whitten, T. Dan J. Whitten. 2003. Plants Indonesian Herritage. Archipelago Press. Singapore. pp. 120.
Widiastoety, D. 2014. Pengaruh Auksin dan Sitokinin Terhadap Planlet Anggrek Mokara. J. Hort, 24(3), pp. 230-238.

Lirik Lagu Kyuhyun The Time I Loved You (OST. The Time We Were Not in Love)

neol saranghalli eopseo
ani nan mollassdeongeoya
itorok nuni busin
neoraneun sarami
nae gyeote kkok isseojueossneunde
neul ttatteushaessdeongeoya
nan neo hanamaneuro
useul su issdeongeoya
himi deuldeon naldo
eonjena niga isseossgie
nae mam najocha nae mam molla
eojjeomyeon hangsang nae gyeote isseoseo
eonjebuteoyeosseossneunji
eotteohge sijakdoengeonji
neowa na uri amudo moreuge
neul anirago haesseo
nae babo gateun maeumi
dugeundaeneun geosjocha
moreun cheok hal mankeum
urineun pyeonhaesseossdeon geoya
niga ijeya niga boyeo
mianhae neomu gidarige haeseo
hamkkehan sumanheun nari
chagokhi ssahin chueogi
sarangiran geol
geuge sarangiran geol arasseo
na neoui ape seoryeohae
eojewa dareun uri moseubi
eosaekhaedo nae soneul jabajullae
hangsang neol saranghaessdeon geoya
uriga jinaon modeun siganeun
eonjena dwidora bomyeon
ttarawajudeon ne georeum
uriga saranghaessdeon siganiya


Read more: http://www.wowkeren.com/lirik/kyuhyun/the-time-i-loved-you-ost-the-time-we-were-not-in-love-.html#ixzz3fUjfnpwN