MORFOLOGI
ANGGREK
Oleh:
Nama : Andriani Diah Irianti
NIM : B1J012011
Rombongan
: IV
Kelompok
: 2
Asisten : Puspa Oktariani
LAPORAN PRAKTIKUM ORCHIDOLOGI
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN
KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015
I.
PENDAHULUAN
a.
Latar Belakang
Anggrek merupakan salah satu suku tumbuhan yang memiliki banyak
anggota. Keluarga
anggrek termasuk suku Orchidaceae
merupakan kelompok tumbuhan berbunga yang mempunyai anggota paling banyak,
dengan 700-800 marga dan 25.000 sampai 35.000 jenis (Luan et al., 2006).
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman jenis anggrek
spesies atau anggrek alam terbanyak di dunia. Kekayaan suku Orchidaceae di Indonesia diperkirakan
setidaknya terdapat 4.000 jenis. Keanekaragaman terbesar ditemukan di Papua
yaitu sekitar 2.000 jenis (Whitten & Whitten, 2003).
Anggrek alam atau anggrek hutan biasanya
dikenal sebagai anggrek spesies. Anggrek - anggrek spesies ini tumbuh secara
alami di tempat - tempat yang tidak dipelihara oleh manusia. Anggrek-anggrek
spesies ini memegang peranan penting sebagai induk persilangan (Purwantoro,
2002). Anggrek yang banyak ditanam sebagai tanaman hias atau dekoratif ruangan
memiliki bentuk, warna dan ukuran yang bervariasi. Bunganya terdiri dari 3
sepal dan 3 petal, petal yang terletak di paling bawah meupakan petal yang
temodifikasi menjadi labellum seperti bentuk bibir, memiliki warnanya lebih
mencolok dibandingkan petal atasnya. Warna yang mencolok dan beraneka ragam
warna pada bunga anggrek inilah yang meningkatkan nilai hiasnya (Deepti et al.,
2013).
Anggrek memiliki permukaan daun yang dilapisi kutikula (lapisan lilin)
yang dapat melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Kedudukan daun
tersusun secara berjajar berseling. Batang anggrek yang menebal merupakan
batang semu yang dikenal dengan istilah pseudobulb berfungsi sebagai
penyimpan air dan cadangan makanan yang digunakan untuk bertahan dalam keadaan
kering. Batang dan daun anggrek mengandung klorofil, hal ini sangat membantu
dalam penyerapan sinar matahari untuk fotosintesis. Klorofil pada batang
anggrek tidak mudah hilang atau terdegradasi walaupun daun-daunnya telah gugur,
oleh sebab itu anggrek juga memiliki julukan evergreen (Sastrapradja,
1980).
Anggrek memiliki akar yang
berbentuk silinder dan berdaging, lunak serta mudah patah dengan ujung
meruncing licin dan sedikit lengket. Dalam keadaan kering akar tampak putih keperakan
pada bagian luarnya dan hanya pada bagian ujung akar saja yang berwarna hijau
atau tampak agak keunguan. Akar pada anggrek berfungsi untuk mengambil,
menyerap, dan mengantarkan zat hara ke seluruh bagian tanaman. Fungsi lain dari
akar adalah menempelkan dirinya pada tempat atau media tumbuh (Puspitaningtyas & Mursidawati, 1999).
Anggrek memiliki bunga dengan lima bagian
utama, yaitu sepal (daun kelopak), petal (daun mahkota), stamen
(benang sari), pistil (putik) dan ovary (bakal buah). Tipe sepal
dan petal dari masing-masing jenis anggrek berbeda-beda berdasarkan bentuk,
warna dan ukurannya. Satu buah sepal bagian atas disebut sepal dorsal,
sedangkan dua lainnya disebut sepal lateral. Salah satu dari petal bunga
anggrek termodifikasi menjadi bibir bunga (labellum) yang merupakan
bagian terpenting karena merupakan alat reproduksi anggrek. Bagian dekat
labellum disebut dengan column yang merupakan perpanjangan gagang bunga atau bakal buah. Bibir
bunga memiliki gumpalan-gumpalan seperti massa sel (callus) yang mengandung protein, minyak dan zat pewangi fungsinya
untuk menarik serangga (Iswanto, 2005).
b.
Tujuan
Tujuan
dari praktikum kali ini yaitu mengetahui morfologi organ vegetatif dan dapat
membedakan akar, batang, daun anggrek berdasarkan cara hidupnya.
II.
MATERI DAN METODE
a.
Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu buku gambar, alat
tulis dan kamera.
Bahan yang digunakan antara lain anggrek Dendrobium
sp., Mokara sp. dan Vanda sp.
b.
Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu:
1.
Alat dan bahan dipersiapkan terlebih dahulu.
2.
Anggrek Dendrobium sp., Mokara sp. dan Vanda sp. digambar pada buku
gambar yang telah disediakan.
3.
Gambar yang telah dibuat,
diberi keterangan bagian-bagian dan klasifikasinya.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
a.
Hasil
b.
Pembahasan
Praktikum kali ini mengamati morfologi dari anggrek Dendrobium sp., Mokara sp., dan Vanda sp. Setiap jenis
anggrek memiliki karakter morfologi yang berbeda. Hal tersebut dapat dilihat
dari bentuk daun, letak daun, batang, akar, bunga, dan buah.
1.
Anggrek Dendrobium sp.
Anggrek Dendrobium sp. merupakan tanaman bunga yang tahan lama dan bunga
potongnya yang berwarna-warni. Genus Dendrobium
sp. merupakan genus terbesar ketiga dari keluarga Orchidaceae, yang terdiri 1.184 spesies di seluruh dunia. Genus Dendrobium sp. diproduksi dalam rangka
untuk membuat pilihan warna baru untuk tanaman hias. Anggrek Dendrobium sp. merupakan salah satu anggrek yang paling umum diproduksi
komersial sebagai bunga potong dan tanaman pot dan merupakan genus yang paling
populer di industri hortikultura(Mehraj et al., 2014). Berikut ini klasifikasi anggrek Dendrobium
sp. menurut APG III (2009), adalah sebagai berikut:
Kingdom :
Plantae
Divisio :
Magnoliophyta
Class : Lilidae
Ordo :
Asparagales
Family : Orchidaceae
Genus : Dendrobium
Species :
Dendrobium sp
Hasil Pengamatan selama praktikum
morfologi anggrek yaitu, anggrek Dendrobium
memiliki tipe pembungaan akram, pembungaannya racemosa, bentuk bunga bulat,
sepal dorsal oblong dan bentuk petal bulat telur (obovate), pseudobulbus homoblastik dan pertumbuhan batang simpodial.
Selain itu, Dendrobium sp. memiliki
bentuk daun lanceolate (lanset),
dengan ujung daun lancip, tepinya rata, dan daunnya saling berseling. Bunganya terbagi atas sepal dorsal sejumlah 1, petal sejumlah 2,
sepal lateral sejumlah 2, dan labellum sejumlah 1. Labellum pada Dendrobium sp. menjulur berbentuk sepatu. Menurut Prasetyo (2009), Dendrobium sp.
memiliki pola pertumbuhan simpodial, kekhasan
tersendiri jenis ini yaitu dapat mengeluarkan tangkai bunga baru di sisi-sisi
batangnya. Umumnya,
anggrek ini memiliki tipe simpodial dan bersifat epifit.
2.
Anggrek Vanda sp.
Anggrek Vanda sp. merupakan salah satu jenis anggrek yang sangat populer dikalangan
masyarakat luas. Anggrek Vanda
umumnya dimanfaatkan sebagai tanaman hias dan bunga potong. Bunga Vanda memiliki keanekaragaman yang
bervariasi, sehingga Vanda memiliki
penggemar yang tidak akan pernah surut. Keunggulan anggrek ini yaitu
memungkinkan untuk dibuat hibrida-hibrida baru karena variasi warna bunga yang
beranekaragam (Hartanti et al., 2014). Menurut Purwanto & Semiarti (2009), anggrek Vanda sp. merupakan anggrek yang tumbuh bagus di daerah tropis. Anggrek ini tersebar
dari Himalaya,
Cina Selatan kemudian
menyebrang ke Srilanka dan Thailand, hingga sampai ke Indonesia. Anggrek dari genus Vanda sp. dikenal memiliki ukuran dan bentuk bunga yang
beragam. Selain itu, anggrek ini juga memiliki banyak variasi dan kombinasi
warna yang menarik. Berikut ini
klasifikasi anggrek Vanda sp. menurut
menurut APG
III (2009), adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Class : Lilidae
Ordo : Asparagales
Family :
Orchidaceae
Genus : Vanda
Species : Vanda sp.
Hasil pengamatan yang dilakukan,
anggrek Vanda sp. memiliki tipe pembungaannya
racemosa, posisi pembungaannya terletak pada ketiak (pleuran), dan tipe pertumbuhan batang monopodial. Selain itu, Vanda sp. memiliki bentuk daun pita (linear), dengan ujung daun bergerigi 3,
dan tepinya rata. Menurut Purwanto & Semiarti (2009), secara morfologi anggrek Vanda memiliki bunga yang tersusun dalam rangkaian berbentuk tandan,
terdiri atas satu sampai lebih dari 15 kuntum bunga dengan ukuran sedang sampai
besar. Bagian utama bunga ini yaitu terdiri dari sepal, petal, stamen, pistilum, ovari dan labellum. Sepal berjumlah 3
yang terdiri atas 1 sepal dorsal, dan 2 sepal lateral. Labelum mempunyai tiga taji. Bagian tengah bunga
terdapat alat reproduksi jantan dan betina. Serbuk sarinya mengandung alat
reproduksi jantan berwarna kuning dan tertutup oleh anther cap, sementara putik
terletak dibagian bawah columna, sepal, petal serta menyatu pada dasar bunga.
Daun anggrek Vanda sp. memiliki bentuk linera samapai lanset (lanceolate) dengan ujung runcing (acutus). Batang vanda termasuk tanaman anggrek monopodial, artinya
batang tumbuh tegak ke atas tak terbatas. Bentuk batang anggrek ini yaitu lurus,
ramping, dan tidak berumbi.
3.
Anggrek Mokara sp.
Mokara sp. merupakan anggrek kerabat dari Vanda, dan merupakan
hasil
persilangan trigenerik yaitu persilangan antara Arachnis x Ascocentrum x Vanda (Widiastoety, 2014). Menurut
Sarwono (2002),
anggrek Mokara sp. banyak digunakan
sebagai bunga
potong antara lain Mokara Chan Kuan yang berwarna merah jambu cerah dan Mokara
Khaw Phaik kuning cerah. Hasil
pengamatan pada anggrek Mokara sp.
memiliki tipe pembungaan racemosa, pertumbuhan batang monopodial, bentuk daun pita
(linear), dengan ujung daun membelah,
dan memiliki taji. Berikut ini Berikut ini klasifikasi anggrek Mokara sp. menurut menurut APG III (2009), adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Class : Lilidae
Ordo : Asparagales
Family :
Orchidaceae
Genus : Mokara
Species : Mokara sp.
Berdasarkan habitat (tempat tumbuh) anggrek dibedakan
menjadi empat kelompok (Darmono, 2003), sebagai berikut:
1. Anggrek epifit, yaitu anggrek
yang hidup menumpang pada batang atau cabang tanaman lain tanpa merugikan
tanaman inangnya. Anggrek ini membutuhnkan naungan dari cahaya matahari.
Contoh: Phalaenopsis sp. (anggrek bulan), Dendrobium sp. dan Cattleya
sp.
2. Anggrek terestial, yaitu anggrek
yang hidup atau tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya matahari langsung.
Contoh: Renanthera sp., Aerides sp., Rynchostylis sp, Vanda
sp., dan Arachnis sp. (Anggrek Kalajengking atau Ketonggeng atau
anggrek laba laba).
3. Anggrek litofit, yaitu anggrek
yang hidup dibatu-batuan serta tahan terhadap cahaya matahari penuh dan
hembusan angin kencang. Contoh: Cytopdium sp., Paphiopedilum sp.,
dan Dendrobium phalaenopsis.
4. Anggrek saprofit, yaitu anggrek
yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau kompos juga daun-daun kering
serta membutuhkan sedikit cahaya matahari. Contoh: Calanthe sp., dan Goodyera
sp.
Anggrek umumnya memiliki akar yang berbentuk
silindris, berdaging, lunak dan mudah patah. Anggek memiliki bagian ujung
meruncing, licin dan sedikit lengket. Akar anggrek dalam keadaan kering, akan
tampak berwarna putih keperak-perakan dan hanya bagian ujung akar saja yang
berwarna hijau atau tampak agak keunguan. Akar yang sudah tua akan berwarna
coklat tua dan kering (Latif, 1960). Anggrek epifit mempunyai dua jenis akar yaitu akar lekat dan akar
gantung (akar udara). Akar lekat adalah akar yang menempel pada substrat yang
berfungsi untuk memperkuat kedudukan tanaman, sedangkan akar gantung adalah
akar akar yang mengantung di udara yang berfungsi membantu pernafasan. Akar pada anggrek
berfungsi untuk mengambil, menyerap, dan mengantarkan zat hara ke seluruh
bagian tanaman. Fungsi lain dari akar adalah menempelkan dirinya pada tempat
atau media tumbuh. Akar udara terdapat lapisan velamen yang berongga dan berfungsi
untuk menyerap air dan udara. Akar
udara dapat
juga melakukan fotosintesis karena
megandung butiran hijau daun (klorofil). Lapisan velamen pada akar udara terdapat Mycorhiza ( myco
= cendawan; rhizome = akar ) atau cendawan yang hidup dalam akar
tumbuhan. Mycorhiza hidup secara simbiosis yaitu dengan memfiksasi
fosfat untuk ditukarkan dengan hidrat dari tumbuhan (Gunaldi, 1977).
Secara
morfologi, tanaman anggrek terdiri dari beberapa bagian yaitu sebagai berikut:
1. Akar
Akar anggrek berbentuk silindris, berdaging, lunak dan mudah patah.
Bagian ujung akar meruncing, licin dan sedikit lengket. Dalam keadaan kering,
akar tampak berwarna putih keperak-perakan dan hanya bagian ujung akar saja
berwarna hijau atau tampak agak keunguan. Akar yang sudah tua akan berwarna
coklat tua dan kering. Akar anggrek berfilamen, yaitu lapisan luar yang terdiri
dari beberapa lapis sel berongga dan transparan, serta merupakan lapisan
pelindung pada sistem saluran akar (Latif, 1960).
2. Batang
Batang tanaman anggrek beranekaragam, ada yang ramping, gemuk berdaging
seluruhnya atau menebal di bagian tertentu saja, dengan atau tanpa umbi semu (pseudobulb).
Berdasarkan pertumbuhannya, batang anggrek dapat dibagi menjadi dua golongan
yaitu tipe simpodial dan tipe monopodial (Darmono, 2003). Batang tipe simpodial
yaitu mempunyai beberapa batang utama dan berumbi semu (pseudobulb)
dengan pertumbuhan ujung batang terbatas. Pertumbuhan batang akan terhenti bila
telah mencapai maksimal contohnya Dendrobium dan Cattleya. Batang tipe
monopodial yaitu mempunyai batang utama dengan pertumbuhan tidak terbatas.
Bentuk batangnya ramping tidak berumbi. Tangkai bunga keluar di antara dua
ketiak daun, contohnya genus Vanda, Aranthera dan Phalaenopsis.
3. Daun
Bentuk
daun anggrek terdiri dari bermacam-macam bentuk, ada yang bulat telur (Renanthera
coccinea),bulat telur terbalik, artinya bagian daun yang bagian atas lebar
dan bagian pangkal kurang lebar, memanjang bagai pita atau serupa daun tebu.
Daun jenis Coelogyne dan Spathoglottis mendekati bentuk daun
kunyit, sedangkan daun genus Dendrobium dan Phalaenopsis berbentuk
bulat memanjang (Latif, 1960).
Tebal
daun beragam, dari tipis sampai berdaging dan kaku, permukaannya rata. Daun tidak
bertangkai, sepenuhnya duduk pada batang. Bagian tepi tidak bergerigi (rata)
dengan ujung daun terbelah. Tulang daun sejajar dengan tepi daun dan berakhir
di ujung daun. Susunan daun berseling-seling atau berhadapan. Warna daun
anggrek hijau muda atau hijau tua, kekuningan dan ada pula yang bercak-bercak.
Anggrek daun memiliki daun atau tulang daun yang berwarna dan disanalah
terletak keindahan jenis-jenis anggrek daun itu (Latif, 1960).
4. Bunga
Bunga
anggrek tersusun dalam karangan bunga. Jumlah kuntum bunga pada satu karangan
dapat terdiri dari satu sampai banyak kuntum. Karangan bunga pada beberapa
spesies letaknya terminal, sedangkan pada sebagian besar letaknya aksilar
(Latif, 1960). Bunga anggrek memiliki
beberapa bagian utama yaitu sepal (daun kelopak), petal (daun
mahkota), stamen (benang sari), pistil (putik) dan ovarium (bakal
buah). Sepal anggrek berjumlah tiga buah. Sepal bagian atas
disebut sepal dorsal, sedangkan dua lainnya disebut sepal lateral.
Anggrek memiliki tiga buah petal, petal pertama dan kedua letaknya
berseling dengan sepal. Petal ketiga mengalami modifikasi menjadi labellum.
Warna bunga tananam anggrek sangat bervariasi dan berfungsi untuk menarik
serangga hinggap pada bunga untuk mengadakan polinasi (penyerbukan).
5. Biji
Bunga anggrek mengandung ribuan sampai jutaan biji yang sangat halus,
berwarna kuning sampai coklat. Pembiakkan dengan biji lebih sukar dibandingkan
dengan cara-cara lainnya, karena biji anggrek sangat kecil dan mudah
diterbangkan angin. Selain itu, biji anggrek keadaannya tidak sempurna karena
tidak mempunyai lembaga atau cadangan makanannya, maka pembiakan dengan biji
yang dilakukan orang bertujuan untuk mendapatkan jenis baru. Biji diperolehnya
dari penyerbukan serbuk sari pada putik. Penyerbukan anggrek yang berada di
hutan terjadi melalui bantuan serangga. Namun, secara sengaja kita dapat
melakukan penyerbukan, dengan mengambil serbuk sari dengan alat dan letakkan
pada kepala putik sehingga terjadi pembuahan (Sumartono,1981).
IV.
KESIMPULAN DAN SARAN
a.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat
disimpulkan bahwa :
1.
Morfologi organ vegetatif
anggrek terdiri dari akar, batang dan daun.
2.
Anggrek berdasarkan habitat
(tempat tumbuh) dibedakan menjadi empat yaitu anggrek epifit, terrestrial, saprofit dan litofit.
3.
Dendrobium sp. termasuk anggrek epifit
dan tipe pertumbuhan batang simpodial. Vanda sp. merupakan
anggrek monopodial yang termasuk ke dalam anggrek epifit dan Mokara sp. merupakan anggrek epifit dan memiliki pola pertumbuhan monopodial.
b.
Saran
Seharusnya untuk preparat anggrek perlu
diperbanyak lagi, agar setiap kelompok tidak perlu bergantian untuk mengamati
sehingga menghemat waktu untuk menggambar morfologinya.
DAFTAR
REFERENSI
Darmono, W. D.
2003. Menghasilkan Anggrek Silangan. Depok:
Penebar Swadaya.
Deepti, S.,
Gayatri M. C. dan Sarangi S. 2013. Morphological and Biochemical Changes In
Pollinated Flowers of Different Aerides
Species. Current Botany, 4(2), pp.
33-37.
Gunadi, T. 1977. Kenal Anggrek. Bandung: Penerbit
Angkasa.
Hartanti, S.,
Sumijati, Pardono dan Ongko Cahyono. 2014. Perbaikan Genetik Anggrek Alam Vanda spp. Melalui Persilangan
Interspesifik dalam Mendukung Perkembangan Anggrek di Indonesia. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 29(1), pp.
31-34.
Iswanto, H. 2005. Merawat dan Membungakan Anggrek Phaleonopsis
(Ed. Revisi). Jakarta: Agromedia Pustaka.
Latif, S. M. 1960.
Bunga Anggrek Permata Belantara
Indonesia. Bandung: Sumur Bandung.
Luan V. Q., N. Q.
Thien, D. V. Khiem, dan D. T. Nhut. 2006. In
Vitro Germination Capacity and Plant Recovery of Some Native and Rare Orchids. Nong
Lam University Ho Chi Minh City. Vietnam Proceedings of International Workshop
of Biotechnology in Agriculture.
Mehraj, H., K. J.
Shikha, A. Nusrat, I. H. Shiam dan A. F. M. J. Uddin. 2014. Growth and
Flowering Behaviour of Dendrobium Cultivars. Journal of Bioscience and
Agriculture Research, 2(2), pp. 90-95.
Prasetyo, C. H.
2009. Teknik Kultur Jaringan Anggrek Dendrobium
sp. di Pembudidayaan Anggrek Widorokandang Yogyakarta. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Purwantoro, A.
2002. Kekerabatan Antar Anggrek Spesies
Berdasarkan Sifat Morfologi Tanaman dan Bunga. Yogyakarta: Fakultas
Pertanian UGM.
Purwantoro, A. W.
dan E. Semiarti. 2009. Pesona Kecantikan
Anggrek Vanda. Yogyakarta: Kanisius.
Puspitaningtyas,
D. M., dan S. Mursidawati. 1999. Koleksi
Anggrek Kebun Raya Bogor. Bogor: UPT Balai Pengembangan Kebun Raya-LIPI.
Sastrapraja, S.
1980. Jenis-jenis Anggrek. Lembaga
Biologi Nasional LIPI. Balai Pustaka, Jakarta.
Sarwono, B. 2002. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis
Menghasilkan Anggrek Potong Kualitas Prima. Tangerang: PT AgroMedia
Pustaka.
Sumartono. 1981. Anggrek Untuk Rakyat. Jakarta: PT Bumi
Restu.
Whitten, T. Dan J.
Whitten. 2003. Plants Indonesian
Herritage. Archipelago Press. Singapore. pp. 120.
Widiastoety, D. 2014. Pengaruh Auksin dan Sitokinin Terhadap Planlet
Anggrek Mokara. J. Hort, 24(3), pp.
230-238.


